Skip to main content

get caught in rain

[ga mau ketinggalan tren posting-blog-tentang-hujan]

Tadi malam dalam perjalanan pulang ke kosan, gua singgah di Estu Echo buat beli makan malam, saat tiba-tiba hujan turun deras banget yang keliatannya bakal lama. Jadilah makanan yang tadinya gua minta dibungkusin, gua makan di tempat. Makannya gua lama-lamain hingga akhirnya hujan mereda. Berlarilah gua menerjang rintik hujan itu (setelah bayar makanan, tentunya!) saat gua sadar bahwa ternyata gua sedang memakai sendal-perak-cantik-namun-licin kesayangan gua yang kalo gua ga lari pun kemungkinan jatuh adalah 70% (baca postingan pertama). Jadilah gua melakukan prosesi jalan cepat sambil menghindar sana sini dari genangan air.

Tiba-tiba dong...hujan menderas (yang kalo lu diam setengah menit di bawahnya, lu bisa basah-kuyup-ampe-celana-dalem!) saat perjalanan pulang gua tinggal 1/3 nya (semenit) lagi. Pengen lari, ga mungkin! Karena, gua sedang memakai sendal-perak-cantik-namun-licin kesayangan gua yang kalo gua ga lari pun kemungkinan jatuh adalah 70% (baca postingan pertama). Jadi ada dua pilihan: gua kehujanan (ga berusaha lari) ato gua jatuh dalam kubangan air (berusaha lari dengan sendal yang licin), yang dua-duanya berarti basah-kuyup-ampe-celana-dalem.

Sebenernya ga masalah sih dengan basah-kuyup-ampe-celana-dalem, toh sampe kosan tinggal diganti. Tapi gua ga tahan dengan pandangan orang. Misalnya nih, kamar kos gua memiliki jendela yang menghadap jalanan (bukan menghadap asrama cowo ITB kayak yang sekarang, walopun gua emang lebih prefer yang ini sih ;p). Gua sedang berada di kamar itu memandangi jalanan di bawah, yang diairi hujan, dengan penuh khidmat sambil sesekali menyeruput kopi, saat tiba-tiba muncul sosok kecil hitam yang basah-kuyup-ampe-celana-dalem berjalan santai di tengah hujan deras seakan-akan malam itu begitu indah diterangi cahaya bintang dan bulan. Gua pasti akan meletakkan cangkir kopi ke tempatnya lalu berdiri menempel jendela untuk memperhatikan sosok itu dengan jelas dan setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang perempuan bernama rika, gua akan menggumam satu kata: "ni cewe cantik tapi sinting".

[Balik ke cerita tadi] Oleh karena itu, gua pun memutuskan untuk mencopot sendal lalu berlari sambil menentengnya. Untung aspalnya bagus, ga banyak batu/kerikil yang menusuk-nusuk telapak kaki. Tapi terkutuklah beberapa cowo yang bersiul dari sebuah teras rumah! Orang lagi kesusahan, juga.

Bener juga kata pepatah, sedia sepatu sebelum hujan (hehe teteup ga mo bawa payung).

Comments

  1. Hwahaha... Emg lebih malu2in nenteng sandal kali Rik! Mendingan juga kuyup2an, sexy boo'. Jadi serasa syuting v. klip Tata Young. ;P

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jeju Island in 3 Days

Jeju Island, the Hawaii of Korea, where couples usually go for honeymoon, and the place of many UNESCO Nature Heritage sites, is really beautiful and romantic. Some people say we need to spend at least 1 week to explore and experience the most of this island, but in my opinion 3 days are enough. Trust me, many places in Jeju only look good in advertisement, they're good at selling it. There are no interesting places in the North and West part of Jeju Island, so you can focus on East and South. East and South parts are amazingly naturally beautiful! Here's the itinerary I recommend.

Day-1: East of Jeju Island

Manjanggul / Manjang Cave
Spending time: 30-45 minutes
Hallasan, located in the middle of Jeju Island is the only volcanic mountain in Korea. It created several small volcanic mountains throughout Jeju Island, called Oreum in Korean. One of the biggest Oreum is Geomun Oreum, famous with its large lava tube system and designated as a UNESCO Natural Heritage site. It has few l…

Transportation in Jeju Island

These are some remarks regarding public transportation in Jeju.
Buses in Jeju Island accept Seoul's t-money card. You can buy and top-up it in convenience store, like GS25 and Family Mart.City buses normally charge 1000won for cash, or 950won for t-money card. If you pay by card, tap it to the machine when you aboard and when you alight. If you transit between 2 buses during a certain times, fee for the next bus can be 0won, or free.Intercity buses vary depends on the distance, usually between 1000-3000won. There's no different fee paying with cash or card. When you aboard the bus, tell the driver about your destination, he will tell you how much it is, and you have to pay there directly. If you pay by card, no need to tap it again when you get off.There are 2 bus terminals in Seogwipo city. The main bus terminal is in the south-east of downtown, near the Jeongbang Waterfall, which is also the old one. The second one is to the right of the E-mart in front of the World Cup Stad…

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk