Skip to main content

Main-main ke UI

Sudah 3 hari ini gw berkelana ke UI, mengadu nasib ke ibu kota, mencari pencerahan TA, dengan mengikuti Short Course Probabilistic Robotics di Fasilkom. Hari pertama gw belajar tentang perkenalan robot, sensor dan actuator...berasa ikut kuliah robotika di elektro lagi, cuma bedanya dalam bahasa inggris (btw, nilai robotika gw naik jadi A hohohoho, grazie Pak Hil ^^). Hari kedua gw jadi gemes sama teacher nya, Dr. Axel Grossmann from Technische Universit├Ąt Dresden, Germany. Bukan hanya karena setelah diperhatikan lebih seksama ternyata teacher nya mirip Surya Saputra versi bule, tapi juga karena doi ngajarin teknik-teknik mapping dan localisation yang memanfaatkan sensor laser dan sonar. Damn! Teknologi robot awak ga secanggih itu, cuma punya sensor kamera yang terpisah dari robotnya. Padahal metode Monte-Ditzky...ehh Monte-Carlo Localisation yang memanfaatkan data dari sensor laser tampak lebih maknyus dibanding metode SIFT (Scale Invariant Features Transforms) gw. Apalagi pada hari ketiga, Surya-Saputra-bule nyinggung-nyinggung soal 3 metode pencocokan peta, "...the second is Scan-based Mapping and the last method uses Features. Ahh that last one..." yes, yes, that's my thesis *gw mulai memperhatikan lebih bersemangat*, "...checking the features from image, by identifying the corners of the room, etc, by using camera sensor..." you're right, mister! You're right *merasa senang karena tau banyak soal ini*, "...but this technique is not robust than the others..." NAJIS, gagal sudah TA awak!

Gw juga menceritakan TA gw ke Surya-Saputra-Bule, soal Genetic Algorithm (GA) yang gw pake sebagai metode path planning. Kayanya dia baru denger gagasan itu (gagasan GA dipake sebagai path planning, I mean) dan mengusulkan supaya gw menunjukkan program gw ke dia minggu depan. Nahh sekarang gw punya pilihan buat bener-bener menyelesaikan program GA gw ato menjauhi Surya-Saputra-Bule for couple next days berpura-pura ga pernah ngobrol soal itu. Short course ini masih akan berlangsung 4 hari lagi, monday until thursday next week, dimana senin nya dipake untuk praktikum simulator robot Player/Stage (yang installation nya najis banget, mentang-mentang di Linux) di lab.

Jadi sebenernya course gratis ini sangat bermanfaat (klo bener-bener dimanfaatkan), tapi sayang effort gw ksana cukup berat. Dari rumah gw (di Pondok gede) ke UI berlangsung 2 jam lebih (najis, uda kayak bdg-jkt aja!) melalui 3 angkot dan KRL (kereta). Course nya sendiri 2 jam lebih, dari jam 1 siang ampe setengah4an. Trus gw pulang (dijemput bokap sih, tapi masi harus naik kereta lagi dari UI ke stasiun cawang) en nyampe rumah jam setengah6an.

Setelah ngobrol-ngobrol dengan Pak Stefanus, dosen UI yang meng-organize this event, ternyata peserta yang lain tu bawa SPJ (surat perjalanan dinas) dari kampus-kampus nya (terutama dari luar kota), yang artinya THEY'RE PAID! Pantes S1 dari UIN Bandung tu rame banget (selain S1 UI), sisanya S2 en peneliti robot. Kenapa ya IF ITB ga biayain acara beginian? Pak Stefanus juga bilang klo 2 minggu lalu ada summer course ke Hanoi, soal Neural Network, Logic etc, bagi S1 Computer Science. Tapi karena dari ITB ga ada yang ikutan (padahal beritanya udah dikirimin ke Pak Oerip, katanya sih!), jadinya yang ikutan anak-anak Fasilkom UI semua. Dibiayain bo ke Vietnam...!

Ya sudahlah! Setelah beberapa hari bolak-balik UI, selain menyuruh adek gw untuk balik ngekos di Depok dan meningkatkan rasa cinta gw ke ITB (karena seriously, walopun kampus nya adem banyak pohon en ada danau buat mancing en 'mancing', tapi cewe nya banyak banget...pusing gw! Dan dengan kampus segede itu, I wonder how they can be united. Di ITB, kami berbagi kantin-kantin dan ruang kuliah yang sama...gw jadi menyesali diri karena seharusnya gw bisa kenal lebih banyak teman jurusan lain), gw juga menyadari bahwa ternyata perpeloncoan itu penting. Panitia Pelantikan HMIF 2006 kemarin berulang kali mewanti-wanti senior supaya jangan menerapkan perpeloncoan. Tapi ketahuilah adik-adikku, hidup itu perpeloncoan! Di stasiun kereta gw menjumpai banyak orang. Ada penjual cd yang ga sengaja memutar player nya dengan volume maksimal trus dimarahi tukang mabok, "WOI, ANJ***!" (kenapa gw tau tukang mabok? karena waktu itu dia duduk agak deket gw dan gw menangkap obrolan dengan temannya sekilas, "tar malam mabuk yuk...gw mo habisin mertua gw..." *seketika ada garis-garis vertikal di jidat gw* Mungkin itu cuma sandi kali yaaa, tapi gw tau diri untuk ga peduli en berpura-pura ga denger) Padahal sebelum si pemabuk teriak, si penjual cd sudah mengecilkan volumenya, yang menandakan klo dia bener-bener ga sengaja. Trus waktu gw berjalan keluar dari stasiun, gw sempat berjalan agak linglung dan nyenggol bahu seseorang, "Heh, songong ya?!" NAJIS, gw langsung lari! Mestinya di kaderisasi, gw diajari untuk menghadapi orang-orang ga punya otak kayak gini!

Btw, mata kiri gw udah seminggu berkedut-kedut dan masih begitu sampe sekarang. Kata cho en nie sih (kok mereka bisa punya panggilan bersuku kata satu yang keren gtu sih?! gw jg pengen...) tandanya gw mo nangis en bakalan ketimpa musibah. Gw agak percaya yang beginian, seperti halnya gw percaya klo cegukan itu pertanda selangkah lebih dewasa, jadi gw berharap musibah itu cepet datang (cepet juga berlalunya) en gw bisa menghadapinya dengan sukses. Tadinya gw mengira (baca: berharap) klo musibah itu adalah sakit pilek gw sehabis pelantikan di Tangkuban Perahu kemaren itu. Tapi ternyata, sakitnya udah sembuh dan kedutannya masih berlangsung. Entah kenapa, kemarin waktu lagi bengong di stasiun nungguin kereta dateng, tiba-tiba terlintas dalam pikiran gw kalo musibah itu adalah...*menelan ludah*...gw ga jadi lulus oktober ini.

Comments

  1. Rik, km ngomong najis berapa kali di posting ini? Hehe, setuju bgt! Sy termasuk pecinta perpeloncoan. Soalnya emg anak2 jaman skrg ga sigapnya minta ampun. Minta ditunyus. Makanya plonco tu perlu biar mereka dikenalin kejamnya dunia. Halah.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jeju Island in 3 Days

Jeju Island, the Hawaii of Korea, where couples usually go for honeymoon, and the place of many UNESCO Nature Heritage sites, is really beautiful and romantic. Some people say we need to spend at least 1 week to explore and experience the most of this island, but in my opinion 3 days are enough. Trust me, many places in Jeju only look good in advertisement, they're good at selling it. There are no interesting places in the North and West part of Jeju Island, so you can focus on East and South. East and South parts are amazingly naturally beautiful! Here's the itinerary I recommend.

Day-1: East of Jeju Island

Manjanggul / Manjang Cave
Spending time: 30-45 minutes
Hallasan, located in the middle of Jeju Island is the only volcanic mountain in Korea. It created several small volcanic mountains throughout Jeju Island, called Oreum in Korean. One of the biggest Oreum is Geomun Oreum, famous with its large lava tube system and designated as a UNESCO Natural Heritage site. It has few l…

Transportation in Jeju Island

These are some remarks regarding public transportation in Jeju.
Buses in Jeju Island accept Seoul's t-money card. You can buy and top-up it in convenience store, like GS25 and Family Mart.City buses normally charge 1000won for cash, or 950won for t-money card. If you pay by card, tap it to the machine when you aboard and when you alight. If you transit between 2 buses during a certain times, fee for the next bus can be 0won, or free.Intercity buses vary depends on the distance, usually between 1000-3000won. There's no different fee paying with cash or card. When you aboard the bus, tell the driver about your destination, he will tell you how much it is, and you have to pay there directly. If you pay by card, no need to tap it again when you get off.There are 2 bus terminals in Seogwipo city. The main bus terminal is in the south-east of downtown, near the Jeongbang Waterfall, which is also the old one. The second one is to the right of the E-mart in front of the World Cup Stad…

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk