Skip to main content

Knitting

[re-posting]

I was knitting in my lab, then realized many things...

Thinking a lot of things while knitting... well bukan knitting sih sebenernya, ini namanya crocheting karna pake 1 jarum. Yang 2 jarum baru knitting. Padahal gw pengennya belajar knitting, lebih keren kayanya ada suara pletak-pletok kayunya. Tapi master Ira membelikan 1 jarum ini dan pesenan jarum knitting nya masih belom dateng dari kriya (ITB). Gw baru mulai belajar minggu lalu. Ini adalah produk pertama gw. Tadinya sih, tadinya ya bo, niatnya buat tempat hape... tapi malah mekar gini, kek nya mo dijadiin sarung tangan aja ehehe secara beberapa orang yang ngeliat langsung teriak, "ihhh lucunyaaaa bikin sarung tangan bayiii...." dan gw pun langsung mendelik, "heh, ini sarung hape tauk!" Sial. Dan mereka emang bener sih, lebih keliatan kayak sarung tangan.
Tadinya gw ngira gw ga bakal tahan lama-lama merajut. Merajut itu kan butuh kesabaran, sedangkan gw pengen hasilnya aja langsung. Tapi ternyata asik bo! Apalagi klo lagi stress, bete en pengen melamun aja, not mood for doing anything. Bener kata dosen kriya (yang ktemu waktu beli benang biru ini disono), merajut itu stress management lohh! :)

And, I wanna go home. Bukan kosan. Bukan rumah di Jakarta. I just wanna be in Aceh for a while. Gw pengen belajar tilawatil Quran lagi, gw pengen naek motor lagi keliling Lhokseumawe yang kecil dan sepi, gw pengen mandi di laut setiap hari. Ya, mungkin nanti, setelah gw pasti kerja/sekolah dimana, sebelum mulai bekerja, kek nya gw pengen menyendiri sebentar, kembali ke Aceh.

Juga, gw bakal meninggalkan lab ini. Gw bakal merindukan saat-saat duduk di depan laptop membelakangi jendela, dari pagi sampe malam. Klo di pilem-pilem dikasih efek percepatan gtu, gw di-shoot dari depan, keliatan gw tetep duduk ga bergeming dengan posisi yang sama, sedangkan langit di belakang gw terus berubah dari gelap ke terang sampe ke gelap lagi. Gw bakal merindukan sapaan hangat pak santika dan Bu Ayu. Gw bakal merindukan Bu Ulfa dan Bu Lia, dan sering nya gw sembunyi di balik komputer-komputer kalo Bu Ulfa si pembimbing TA-ku tiba-tiba masuk lab. Yeah, I'll miss those TA-things (walopun agak tidak ingin mengalaminya lagi haha)!! Gw bakal merindukan bunyi dengkur tidur nya Pak Iping dan rokoknya dan panasnya lab karena itu. Gw bakal merindukan weekend di lab sendirian jalan ksana kemari ga pake alas kaki, dengerin harryPODder sambil karoke-karoke sendiri (baca: tereak-tereak).

Gw bakal merindukan kampus ini. Sekarang aja uda kangen. Terdengar sayup-sayup suara musik di luar sana. Gw suka banget dateng ke acara-acara kampus walopun gw bukan yang eksis di kampus ini. Walopun cuma dateng bareng Neni (I miss her too T___T Neniiii kembalilah dirimuuuw), kami bedua takkan bisa terkalahkan! Pernah bo abis pulang dari nonton festival film Itali (jam10an malam), trus kita ngelewatin GSG ada bunyi musik-musik seru. Woaaaah kita langsung muter jalan lewat sana, pengen tau ada apaan. Ternyata acara temu akrab anak-anak mesin. Dan tebak... kami bedua nyelonong aja masuk. Padahal mesin gtu, jurusan yg cewe nya dikit, pasti ktauan lah klo kami bedua bukan anak sono. Yeah, gw kangen nonton Loedroek, Gelar Budaya Aceh, Pagelaran LSS, MGG, etc. Setiap nonton gtuan biasanya duduk lesehan, gw inget banget gw suka sesekali memandang ke langit malam yang berlatarkan atap bangunan-bangunan dan pohon-pohon ITB...

Jadi inget 2 malam yang lalu. Gw cuma pengen makan malam, jadi ngajak Groban en Ronald yg kebetulan lagi sama-sama di kampus. Trus ngajak sana-sini, ternyata rame juga yang mau ikutan (akhirnya terkumpul 8 orang)... padahal kita cuma mo makan mie Aceh di Simpang Dago. Bahkan yang lagi ga di kampus (Dibon, Ali yang dah alumni) bela-belain dateng dari rumah dan tempat kerja nya masing-masing. Hemm gw ngerti sekarang, masa-masa ngumpul rame-rame itu sudah menjadi hal langka dan selalu diinginkan. Seperti kata Rondut yang baru pulang dari Jerman. Baru 2 hari menginjak Indonesia, dia uda mulai apply-apply beasiswa ke luar lagi, dia pengen segera kembali ke tanah eropa ahahaha katanya dia ga merasa Bandung sebagai rumahnya lagi karena temen-temen uda pada menghilang. Ya, betul, beberapa bulan terakhir gw emang mulai ngerasa asing di kampus ini, disana-sini ngeliat muka-muka muda yang tidak kukenal.

Hmmm and these all start with knitting...

Comments

  1. wkwkwakakakk, tah vava kita dulu y Rik.. ^o^

    Rika, mau dibuatin tas kecil donk. hehehee..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jeju Island in 3 Days

Jeju Island, the Hawaii of Korea, where couples usually go for honeymoon, and the place of many UNESCO Nature Heritage sites, is really beautiful and romantic. Some people say we need to spend at least 1 week to explore and experience the most of this island, but in my opinion 3 days are enough. Trust me, many places in Jeju only look good in advertisement, they're good at selling it. There are no interesting places in the North and West part of Jeju Island, so you can focus on East and South. East and South parts are amazingly naturally beautiful! Here's the itinerary I recommend.

Day-1: East of Jeju Island

Manjanggul / Manjang Cave
Spending time: 30-45 minutes
Hallasan, located in the middle of Jeju Island is the only volcanic mountain in Korea. It created several small volcanic mountains throughout Jeju Island, called Oreum in Korean. One of the biggest Oreum is Geomun Oreum, famous with its large lava tube system and designated as a UNESCO Natural Heritage site. It has few l…

Transportation in Jeju Island

These are some remarks regarding public transportation in Jeju.
Buses in Jeju Island accept Seoul's t-money card. You can buy and top-up it in convenience store, like GS25 and Family Mart.City buses normally charge 1000won for cash, or 950won for t-money card. If you pay by card, tap it to the machine when you aboard and when you alight. If you transit between 2 buses during a certain times, fee for the next bus can be 0won, or free.Intercity buses vary depends on the distance, usually between 1000-3000won. There's no different fee paying with cash or card. When you aboard the bus, tell the driver about your destination, he will tell you how much it is, and you have to pay there directly. If you pay by card, no need to tap it again when you get off.There are 2 bus terminals in Seogwipo city. The main bus terminal is in the south-east of downtown, near the Jeongbang Waterfall, which is also the old one. The second one is to the right of the E-mart in front of the World Cup Stad…

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk