31 October 2008

In Banda Aceh

Yosh, I've been here in Banda Aceh for 2 weeks. And 2 weeks more till I go back to Jakarta. I got a project job here (it's not related to previous post :D) for 3 weeks to help to build a system for Meuraxa Tsunami Drill. Let's skip about the event (and the system, I'll write them next days), and look around the city!

I went here by plane from Soekarno-Hatta to Sultan Iskandar Muda (transit in Polonia). It's my first experience stopping in SIM actually, cause everytime I went back to Aceh, I'm going to Lhoksukon plane stop airport, the nearest place to my reminiscently hometown Lhokseumawe. Yeah Lhokseumawe FTW! Because of bad weather, my flight to SIM was delayed for 3 hours for sake, luckily my flash is always with me *kisses flash* (no hotspot in Polonia). SIM is a very small building for a Malaysia an international airport.

On the first weekdays I got very busy. My work responsibility is like... can I make it??! So I was starting to walk around the city on Saturday. First destination: Baiturrahman Great Mosque. It's great, as usual. Next destination: Taman Sari Kerajaan Aceh. I don't know why I love history so much, so archeological of kingdoms are must visited! There are many sites of Taman Sari. First: Gunongan. It's a gift from Sultan Iskandar Muda (a king of Aceh Kingdom on 16th century) to his queen Putroe Phang (from Pahang, Malaysia). Aceh people relate very closed to that neighbour country. Instead going to Jakarta, Yogyakarta, Bali or other Indonesian great places, they tend to go to Kuala Lumpur for holiday and to Penang for medication. Nooo wonder, since our ancestors are also related to that neighbour (selain emang lokasi yang sangat dekat).
Alkisah, Putroe Phang sering merasa kesepian di tengah kesibukan sang suami sebagai kepala pemerintahan. Ia selalu teringat dengan kampung halamannya di Pahang. Untuk membahagiakan sang permaisuri, ia membangun sebuah gunung kecil (Gunongan) sebagai miniatur perbukitan yang mengelilingi istana permaisuri. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan bermain bersama dayang-dayang di sekitar Gunongan, sambil memanjatinya.

Damn, why our queen was so childish? Gunongan is indeed a nice place for playing around.. but not for whole days! I got bored after 30 minutes there (maybe because there are no dayang-dayang to serve me). If I were her, I would rather help my husband to lead the country better than playing in a "gunung-gunungan". Di area ini ada bak mandi nya Putroe Phang, dimana ditengah-tengahnya terdapat lubang untuk dayang-dayang meracik shampoo organik khusus untuk Putroe Phang mandi. Selain tempat bermain Putroe Phang, wilayah ini juga dulunya dijadikan sebagai tempat peristirahatan prajurit-prajurit kerajaan yang disebut Kandang (di sebelah Gunongan). Saat ini disana merupakan persemayaman Sultan Iskandar Tsani, menantu Sultan Iskandar Muda.

Entry ticket.. hemm mystic ahaha. Waktu gw datang pintu pagar terkunci rapat. Untung lagi ada bapak-bapak di deket pagar, langsung aja hajar "Pak, pak, boleh masuk ga?" Ehh ternyata dia welcome banget, dan jadi tour guide private kami. Well, of course then we have to pay him for his story and accompaning seikhlasnya (suggestion: more than 5000 IDR per person).

Next Taman Sari sites: Museum Negeri Aceh. There are Lonceng Cakradonya, Rumoh Aceh, and museum. Penjelajahan Taman Sari gw lanjutkan keesokan harinya dengan mengunjungi makam Sultan Iskandar Muda dan keturunan kerajaan lainnya. Lalu singgah bentar di Pendopo gubernur di sebelahnya. Hehe iseng banget ya! Gossips:
1) Pendopo merupakan bekas istana Kerajaan Aceh.
2) Ada jalan bawah tanah dari istana ke Gunongan (tapi belum ditemukan sampai sekarang)
3) Jika Lonceng Cakradonya, bunyinya sampai ke seluruh Taman Sari. Dahulu digunakan untuk memanggil para prajurit berkumpul. Sekarang lonceng ini sudah tidak bisa berbunyi lagi karena anak lonceng di dalamnya sudah tidak ada.

I also visited Taman Ratu Safiatuddin and Kapal Terdampar. Kapal PLN itu saksi bisu kehebatan tsunami. Ngeliatnya bikin takjub sendiri, dan agak merinding gitu (btw, sekarang sedang dibangun museum tsunami oleh BRR)
Selain tempat wisata, of course I do some wisata kuliner!
1) Gunung Salju. Well lebih tepatnya wisata kuliner kenangan haha because it's a restaurant that me and my friend often came to eat. Try the original ice cream! Try. the. ice. cream!
2) Mie Aceh: goreng, basah, tumis, rebus... you name it. But my favo is the fried one. I mean, the SPICY fried one. More spicy more yummy! The most famous one is Mie Razali I think, tapi ada tempat lain yang lebih enak kok (di daerah Penayong juga, but I don't know the name)
3) Roti Cane. Beda lohh sama roti cane yang biasa dijual di Gampoeng Aceh Bandung Well basically the taste is same. Kalo di Bandung, gula/susunya ditaburin di atas roti. Kalo di Aceh, gula/susu ada didalam rotinya. Ga cuma gula/susu, ada juga isi srikaya, strawberry, nangka, coklat, dsb
4) Kopi Ulee Kareng. Kabarnya mengandung ganja lohh
5) Ayam Tangkap. Hohoho dah lama jadi orang Aceh, baru kali ni nyobain ayam tangkap Disebut juga Ayam Sampah (lihat saja bentuknya)6) Phenomenon in Banda Aceh lately, many burger shops in the street at night, don't know why! Don't eat there, there are many mosquitos. Actually the mosquitos are everywhere. Banda Aceh is full of mosquitos!! Ga di rumah (sepupu), di kantor, di jalanan.. gw selalu digigitin nyamuk, bahkan soffell tidak mempan. Susah memang jadi gadis manis.

(*) more photos

19 October 2008

Melelahkan. Melegakan. Mengharukan

Hhff, ijinkan saya untuk mengundurkan diri sejenak dari dunia pencarian kerja babai

Un cocomero tondo tondo
che voleva conquistare il mondo
che voleva che tutti gli altri superare
un bel giorno si mise a…

(Semangka yang bundar
ingin menguasai dunia
dan mengalahkan yang lain
suatu hari yang indah ia pun…
— lagu anak-anak Italia

13 October 2008

Kerugian Teknologi

I'd never experienced it before. Pernah sih kalau lagi pake ATM suka mengkhayal sendiri... gimana ya kalo tiba-tiba kartu gw ga mau keluar? Gimana ya kalo duitnya ga keluar padahal tabungan gw dah berkurang? Gimana ya kalo tiba-tiba isi tabungan gw bertambah banyak? Kalo yang terakhir sih didiemin aja ihikhik

On last friday at 16.30 WIB I took 100,000 rupiahs from ATM Mandiri at Plaza Semanggi. Jreng jreng, one of 50,000 came out with... torn! It's totally not my fault!I got panicked. It was at the mal (no bank office). And friday afternoon (all banks had closed). What should I do? Where should I go? Who's responsible for this? How could I prove it? Then I called Call-Mandiri 14000. They said that I could exchange it in any Mandiri office.

So on monday (which is today), I went to Mandiri office at Wisma Tugu Kuningan (the nearest one from my english course place, Menara Kuningan) just before I attend my course. So I didn't go there for that certain purpose.

After they discussing it, they said that they couldn't exchange it because the serial number part of the money was gone. If it's torn at the upper part, or just any parts except the serial number, then they could. Instead they suggested me to go to Bank Indonesia, or any Mandiri offices closed to Plaza Semanggi xpasti

Yeah right, it will cost me then (transport-expense and time). Goodness it's only a sheet of 50,000 rupiahs. Just take it as I was being unlucky when back there (and it was a sign actually, shit really happened on that night).


Once, several years ago, Anastasia's parents had had a huge fight about sewing. Her mother was sewing some buttons onto something at the time and had just pricked her finger with the needle, and she had the tip of her finger in her mouth, sucking it, when suddenly she got mad.

"This is the most sexist household in Cambridge," she had announced angrily. "Why is it that the wife gets stuck with the sewing? Myron, you do some of the cooking. Will you tell me one good reason why you don't sew?"

"Because I don't know how," her father had said, chewing on his pipe.

"I'll teach you, then."

"Thank you, but I don't want to know how to sew."

Her mother sat there for a minute, sucking her finger, looking madder and madder. "In that case," she said finally, "thank you, but I don't want to do any laundry anymore. Ever."

"In that case," said her father, "I don't think I want to be an English professor anymore. I have always, if you must know, wanted to be a beachcomber. So I think that from now on I will walk on empty beaches -- all alone, by the way -- and recite poetry to myself. Of course that means that there will be no more paychecks."

Anastasia's mother folded the shirt which was still missing two buttons, very neatly, and laid it on the table. "As a matter of fact, I have been wanting for a long time to go to the Cotswolds and live in a small cottage with a thatched roof -- all alone, by the way -- and paint."

Anastasia had scurried away to her room, terrified. If her father became a beachcomber -- all alone -- and her mother went to the Cotswolds, whatever the Cotswolds were -- all alone -- what would happen to Anastasia?

But after a while, she heard her parents laughing. When she went back to where they were, her mother was giggling and had her father's pipe in her mouth, and her father was sewing a button on his shirt.

Since then, her mother had always done all the sewing.

From: Anastasia Again! by Lois Lowry

12 October 2008

Mengunjungi Istana Maimoen (part 2)

Saatnya mendongeng.
Dahulu kala saat Kerajaan Deli masih bernama Kerajaan Haru, ada seorang puteri cantik jelita bernama Puteri Hijau, yang saking cantiknya memancarkan cahaya hijau dari tubuhnya. Ia memiliki 2 saudara laki-laki Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Suatu hari Raja Aceh datang ingin meminang Puteri Hijau namun ditolak. Karena merasa tersinggung dan marah, Raja Aceh menghimpun pasukan kerajaannya untuk mulai menyerang Kerajaan Haru.

Saat itulah Mambang Khayali berubah jadi sebuah meriam, yang menembak pasukan Aceh tanpa henti. Lama-kelamaan meriam itu menjadi panas hingga akhirnya meledak, pecah dan terlempar. Mambang Khayali pun meninggal. Bagian depan pecahan meriam terlempar ke dataran tinggi Karo di dekat Kabanjahe (tus??! Take me there!), sedangkan bagian belakangnya terlempar ke Labuhan Deli yang lalu dipindahkan ke pekarangan Istana Maimun.
Selanjutnya karena semakin kalah, Mambang Yasid menyarankan adiknya untuk berpura-pura menerima pinangan Raja Aceh, dengan syarat Puteri Hijau diberikan keranda kaca tersendiri di dalam kapal yang akan membawanya ke Aceh. Permintaan itu disetujui dan Puteri Hijau pun berlayar ke Aceh. Saat itulah Mambang Yasid berubah menjadi naga. Ia mengibaskan ekornya untuk merusak ujung kapal, hingga terbuka ruangan untuk ia mengambil keranda kaca berisi Puteri Hijau. Sang naga membawa Puteri Hijau melalui sebuah terusan (sekarang Jl. Puteri Hijau Medan) dan memasuki Sungai Deli hingga akhirnya sampai di Selat Malaka. Menurut legenda, mereka kini berdiam di bawah laut dekat Pulau Berhala.

Sedangkan cerita versi sejarahnya...
Seperti yang telah gw tulis di postingan sebelumnya, Kerajaan Aceh menganggap Haru-Melaka adalah ancaman, sehingga pada tahun 1539 M Aceh mulai menyerang Kerajaan Haru. Saat itu Kerajaan Haru hanya dipertahankan oleh sebuah meriam besar yang dibeli dari orang Portugis (yang kemudian pecah menjadi Meriam Puntung). Lalu saat Sultan Haru tewas, Permaisuri Anchesin berlayar ke Melaka meminta bantuan Portugis dan Sultan Riau-Johor (menggunakan perahu berkepala naga). Singkat cerita, Haru tetap kalah dari Aceh saat ditaklukkan oleh Laksamana Gocah Pahlawan.

Hm kisah dongeng memang selalu lebih menarik. Percaya ga percaya, pada tahun 1995 Meriam Puntung (red. Puntung means Buntung in Batak, CMIIW) ini sempet hilang dari gubuk peristirahatannya, dan ditemukan di pinggir Sungai Deli. Padahal, pintu tempat persemayaman Meriam Puntung itu dalam keadaan terkunci. Tidak ada orang yang sanggup mengangkatnya, akhirnya beberapa kerabat kesultanan Deli datang dan berhasil membawanya kembali ke Istana Maimun dan dibuatkan pondok baru berbentuk rumah adat Karo.

Untuk masuk, per orang bisa bayar Rp 2000-3000 (buat masuk Istana Maimun juga segitu.. pinter-pinternya nawar) ke penjaganya atau dimasukkan ke kotak amal deket si meriam (Meriam Puntung tentunya, bukan Meriam Belina *halah*). Di meriam itu terdapat sebuah lubang. Penjaga disana mempersilahkan kita untuk mendengar suara dibalik lubang itu, suara air sungai (Deli) mengalir. Gw pun mencoba mendengarkan sambil membayangkan kalo gw Puteri Hijau.

Yang terdengar adalah suara mendengung. Iya sih, mirip suara air sungai, tapi setau gw dimana-mana pipa terbuka pasti bersuara kayak gitu. Inget pelajaran fisika dulu kan, tentang organa terbuka dan tertutup? Selama udara masih bisa keluar masuk pasti ada suara yang ditimbulkan. (There is explanation for everything, I love science).

Katanya, di daerah Deli tua ditemukan pesan Puteri Hijau seperti berikut, "jika ada wanita yang secantik diriku, maka dia pasti tidak sempurna." (Entah kenapa gw teringat si Anna, sama-sama dari Medan pulak. Jangan-jangan lu keturunan Puteri Hijau na, sama narsisnya)

11 October 2008

Mengunjungi Istana Maimoen (part 1)

Saatnya membuka kembali buku sejarah.

Pada abad ke-15, Kerajaan Haru yang berlokasi di Sumatera Timur (Bengkalis), is one of the biggest kingdoms, along with the Kingdom of Melaka (Imperium Melayu Riau-Johor) and the Kingdom of Aceh Darussalam. Hubungan yang erat antara Haru dan Melaka (dikarenakan adanya perkawinan antara Raja Haru dan Putri Raja Melaka) menyebabkan Aceh khawatir akan kekuasaannya di Sumatera, apalagi saat itu Portugis mulai mengambil alih pemerintahan Melaka. Aceh terus menerus menyerang Melaka dan Haru. Hingga akhirnya dibawah pimpinan Muhammad Dalik atau Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Khoja Bintan, Kesultanan Aceh dapat menaklukkan Haru. Sejak itu, Dalik dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wali negara di bekas Kerajaan Haru.

Pada tahun 1630 M, Dalik mendirikan Kerajaan Deli, setelah menikahi Puteri Nang Baluan Beru Subakti dari Batak Karo. For the detail explanation about this marriage, please let me quote from Melayu History:
Gocah Pahlawan menikah dengan adik Raja Urung (negeri) Sunggal yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti. Sunggal merupakan sebuah daerah Batak Karo yang sudah masuk Melayu (Islam). Di daerah tersebut, ada empat Raja Urung Batak Karo yang sudah masuk Islam. Kemudian, empat Raja Urung Raja Batak tersebut mengangkat Laksamana Gocah Pahlawan sebagai raja di Deli pada tahun 1630 M. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan Laksamana Gocah Pahlawan menjadi Raja Deli pertama.

Setelah Dalik meninggal di tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh, memanfaatkan situasi Aceh yang sedang melemah (katanya sih) karena dipimpin oleh raja perempuan (mungkin terpengaruh tradisi Minangkabau), Ratu Taj al-Alam Tsafiah al-Din (hey, what's wrong with a girl power??!). Ibu kotanya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan. Makanya beberapa sumber menyebutkan bahwa Kerajaan Deli berdiri pada tahun 1669. Let me quote again:
Pada tahun 1723 M terjadi kemelut ketika Sultan Deli III mangkat, karena putera tertua Raja, Tuanku Umar, yang seharusnya menggantikannya memiliki cacat di matanya, sehingga tidak bisa menjadi raja. Putera nomor 2, Tuanku Pasutan yang sangat berambisi menjadi raja kemudian mengambil alih tahta dan mengusir adiknya bersama ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang. Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar yang seharusnya menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli, karena ia putera garaha (permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Untuk menghindari agar tidak terjadi perang saudara, maka 2 Orang Besar Deli, yaitu Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembal, bersama seorang Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu), lalu merajakan Tuanku Umar sebagai Raja Serdang pertama tahun 1723 M. Demikianlah akhirnya Kesultanan Deli terpecah menjadi dua: Deli dan Serdang.

OK, lupakan Kerajaan Serdang. Pada pertengahan abad ke-18:

Berkat perkebunan tembakau, Sultan Deli yang berkongsi dengan Belanda dalam membuka dan mengelola lahan perkebunan kemudian menjadi kaya raya. Dengan kekayaan yang melimpah ini, para sultan kemudian hidup mewah dan glamour dengan membangun istana yang mewah dan indah, membeli kuda pacu, mobil mewah dan sekoci pesiar, serta mengadakan berbagai pesta untuk menyambut para tamunya yang kebanyakan datang dari Eropa.

Peninggalan kekayaan tersebut adalah Istana Maimun yang masih berdiri megah di kota Medan hingga saat ini. Itulah tempat yang gw datangi saat gw berkunjung sebentar ke Medan minggu lalu. Istana ini didirikan pada tahun 1888 oleh Sultan Deli Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah sejak ibukota Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Istana ini bercorak Islam campur Eropa dengan warna kuning ngejreng, terdiri dari 3 bagian (tengah/utama, sayap kanan dan kiri), 2 lantai dan 40 kamar, dimana 20 kamar ada di lantai atas tempat singgasana sultan dan 20 lagi di bagian bawah. Yang bisa kita masuki adalah lantai atas bagian tengah saja (balairung), karena di bagian lain istana ini didiami oleh 20 keluarga keturunan Sultan Deli (saat mulai masuk gerbang istana, kelihatan deh banyak jemuran baju di halamannya. Lihat gambar paling atas!).

Di dalamnya ada pelaminan dan kursi singgasana yang juga serba kuning. Jadi agak merasa gimanaaa gitu duduk di singgasana raja/ratu jaman dulu. Fakta yang paling menarik adalah, kesultanan ini masih ada doooong! Dipegang oleh Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam (biasa dipanggil Aji) yang baru berumur 11 tahun! Dia dilantik 3 tahun yang lalu, saat ayahnya Letkol Inf Tito Otteman Padrab, Sultan Deli XIII yang bergelar Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam meninggal dunia karena kecelakaan pesawat saat mendarat di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe.

Karena Aji masih belum akhil baligh, maka tampuk kepemimpinan dipegang Raja Muda Deli, Tengku Hamdy Osman Deli Khan, yang masih terhitung kakeknya, adik dari Sultan Deli XII Azmy Perkasa Alam Alhaj. Tengku Hamdy memang sudah sering dijadikan Raja Muda Deli ketika Sultan Deli bepergian ke luar Medan. Bagi Kesultanan Deli, pengangkatan Aji merupakan sejarah, karena memecah rekor sultan termuda. Sultan termuda sebelumnya adalah Sultan Ma’moen Al Rasyid (1873-1924), yang diangkat pada umur 15 tahun. Katanya sekarang Aji tinggal di Makassar, ikut ibunya yang anak mantan gubernur Sulawesi Selatan Zainal Basri. Hayooo kejaaaar... cakep lohh anaknya (ayo ayo sini sama tante).

(sorry, angle-nya kurang pas. Yang ngambil gambarnya adek gw nih, makluum.. dia suka grogi kalo liat cowo cakep)

Jadi inget Goong! Ga usa jauh-jauh ke Korea deh, disini juga masih ada istana, pangeran dan kesultanan kerajaan. Kesultanan Deli sudah tidak mengatur pemerintahan lagi sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia, tetapi masih dianggap sebagai pemuka/datuk Sumatera Utara untuk menjaga adat istiadat dan budaya Melayu.

10 October 2008

Next Destinations in Aceh

First, I want to go to Sabang. Percaya ga, 15 tahun gw hidup di Aceh tapi belum pernah ke Sabang? Sabang is the most western part of Indonesia Aceh, closed to Banda Aceh but not to Lhokseumawe (North Aceh) as my hometown. So my family never took me there. But then I moved to Banda Aceh to continue my senior hi school, while my parents were still in Lhokseumawe (it's far for 6-7 hours by car). The only chance I could go to Sabang was with my school friends. Di liburan panjang selesai tahun pertama SMU, temen-temen sekelas pun berencana jalan-jalan ke Sabang selama 3 hari. I was so excited, until Dad suddenly told me that he would take me to Singapore for that holiday. So yeah then I chose Singapore.

But now, I can go there by myself. Before going to Aceh last week, I've browsed a lot about Sabang. There are 0 kilometres monument and the beautiful beaches and the perfect quiet places for diving... owhh I'm really craving to go there. But yeah, I think I couldn't do it last holiday, my time was full with my family. Ied is family holiday rite? So yeah, probably next time I will visit Sabang. Ada yang berminat?

Aaaaand I've just heard about the renovation of Cut Nyak Meutia's cemetery!! I'm sooo into Cut Nyak Meutia, rather than other famous heroes from Aceh.. you know, Cut Nyak Dhien and Teuku Umar. That's because she comes from North Aceh nyehehehe. Her house was in Matangkuli but she died in the upper of Krueng Peutoe (Krueng means river), 31 kilometres from her house, where she was buried until now. Tahun lalu, sekumpulan tentara TNI bersama sukarelawan dari universitas ntah apa, melakukan ekspedisi ke makam Cut Nyak Meutia. Dari rumah Cut Nyak Meutia ke makamnya itu cuma bisa ditempuh dengan jalan kaki melewati medan yang sangat berat, menembus hutan lebat, sungai dan jurang. Saat tiba disana, makam Cut Nyak Meutia sangat tidak terurus, tidak terlihat sebagai makam seorang pahlawan nasional. Sejak itu, pemerintah Aceh (Utara) mencanangkan renovasi makam Cut Nyak Meutia itu, dan akan membangun jalan kesana sehingga masyarakat dapat sering mengunjunginya. So yeah, I wanna go there too.

Entah kenapa, gw cenderung tertarik dengan sejarah Aceh justru saat gw sudah pindah dari sana. Tiga tahun lalu saat gw pulang, gw menanyakan letak peninggalan Kerajaan Samudera Pasai sama saudara gw, karena yang gw tau kerajaan itu letaknya di Lhokseumawe. Sedangkan Kerajaan Aceh (belum pernah ke situs ini, pengen juga...) baru letaknya di Banda Aceh. Tapi saudara gw tidak menanggapi dengan antusias dan mengatakan bahwa tempat itu ga terurus dan ga menarik untuk dikunjungi. So yeah, waktu itu gw ga jadi kesana, dan terlupakan ampe sekarang. Maybe, next time.


Playing Gun

Minggu kemarin gw berlebaran di Aceh. Ternyata ritual permainan anak laki-laki disana masih tidak berubah, bermain senjata! Menjelang Idul Fitri, bukan cuma lilin kembang api dan alat-alat pembakaran lainnya yang banyak dijual di pasaran, tapi juga senjata mainan laras panjang. I dont know much about gun types, maybe they're AK47 one. Tipe yang dijual sama bo (beda warna doang), gw ga ngerti deh darimana dapet stok barang-barang ini. Kebiasaan ini cuma ada di Aceh, well at least I don't see it in Jakarta. Di hari-hari lebaran itu, kita akan menjumpai sekumpulan anak laki-laki dengan masing-masing memegang senjatanya dan berkeliling kota naik becak, mencari kumpulan anak laki-laki lain untuk diserang. Dan mereka tembak-tembakan pake anak peluru kecil bulat-bulat yang kalo kena lumayan juga sakit bo! What the hell are they thinking?! I think they still couldn't think. Lucunya, main-main senjata ini cuma ada pas lebaran. Seperti sepupu kecil gw, pas malam lebaran dia mengeluarkan senjata mainannya lagi setelah terakhir kali digunakan saat lebaran tahun lalu.
I don't remember since when this ritual happened in Aceh. Waktu gw kecil, yang ada cuma keliling-keliling kompleks pas malam lebaran sambil bawa alat penerangan. Ada yang bikin obor (yang jadi ketua kelompok) dan ada yang cuma narok lilin di batok kelapa. Kalau yang sedikit cerdas, suka bikin kereta-keretaan dari kaleng susu, plus roda dan tongkat penarik dari kayu, dengan lilin nya dimasukkan ke dalam kaleng itu. Not only girls, all boys did that too. Justru biasanya cowo-cowo itu suka bikinin kereta-keretaan yang lucu buat cewe-cewe :) very nice! Tapi waktu gw uda agak gedean dikit (SMP or SMA, that means umm year 1997-2000), adik gw yang cowo mulai dibeliin senjata mainan (tanpa peluru! Haha bokap gw parno banget). Dan kayanya dia juga biasa-biasa aja mainnya, not too into it. I mean, he didn't go around the town to shoot people/things (bener kan yi? :P) eventhough his friends did that.

What I thought is... mungkin awalnya, ada kelompok tertentu yang ingin mempersiapkan aneuk agam (anak laki-laki) untuk berperang, dengan cara sedari kecil diajarkan bermain senjata. Dan hal ini berlanjut terus ampe sekarang (malah menjadi budaya), eventhough the conflict has been finished. Hehe it's just a thought.