Skip to main content

Mengunjungi Istana Maimoen (part 2)

Saatnya mendongeng.
Dahulu kala saat Kerajaan Deli masih bernama Kerajaan Haru, ada seorang puteri cantik jelita bernama Puteri Hijau, yang saking cantiknya memancarkan cahaya hijau dari tubuhnya. Ia memiliki 2 saudara laki-laki Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Suatu hari Raja Aceh datang ingin meminang Puteri Hijau namun ditolak. Karena merasa tersinggung dan marah, Raja Aceh menghimpun pasukan kerajaannya untuk mulai menyerang Kerajaan Haru.

Saat itulah Mambang Khayali berubah jadi sebuah meriam, yang menembak pasukan Aceh tanpa henti. Lama-kelamaan meriam itu menjadi panas hingga akhirnya meledak, pecah dan terlempar. Mambang Khayali pun meninggal. Bagian depan pecahan meriam terlempar ke dataran tinggi Karo di dekat Kabanjahe (tus??! Take me there!), sedangkan bagian belakangnya terlempar ke Labuhan Deli yang lalu dipindahkan ke pekarangan Istana Maimun.
Selanjutnya karena semakin kalah, Mambang Yasid menyarankan adiknya untuk berpura-pura menerima pinangan Raja Aceh, dengan syarat Puteri Hijau diberikan keranda kaca tersendiri di dalam kapal yang akan membawanya ke Aceh. Permintaan itu disetujui dan Puteri Hijau pun berlayar ke Aceh. Saat itulah Mambang Yasid berubah menjadi naga. Ia mengibaskan ekornya untuk merusak ujung kapal, hingga terbuka ruangan untuk ia mengambil keranda kaca berisi Puteri Hijau. Sang naga membawa Puteri Hijau melalui sebuah terusan (sekarang Jl. Puteri Hijau Medan) dan memasuki Sungai Deli hingga akhirnya sampai di Selat Malaka. Menurut legenda, mereka kini berdiam di bawah laut dekat Pulau Berhala.

Sedangkan cerita versi sejarahnya...
Seperti yang telah gw tulis di postingan sebelumnya, Kerajaan Aceh menganggap Haru-Melaka adalah ancaman, sehingga pada tahun 1539 M Aceh mulai menyerang Kerajaan Haru. Saat itu Kerajaan Haru hanya dipertahankan oleh sebuah meriam besar yang dibeli dari orang Portugis (yang kemudian pecah menjadi Meriam Puntung). Lalu saat Sultan Haru tewas, Permaisuri Anchesin berlayar ke Melaka meminta bantuan Portugis dan Sultan Riau-Johor (menggunakan perahu berkepala naga). Singkat cerita, Haru tetap kalah dari Aceh saat ditaklukkan oleh Laksamana Gocah Pahlawan.

Hm kisah dongeng memang selalu lebih menarik. Percaya ga percaya, pada tahun 1995 Meriam Puntung (red. Puntung means Buntung in Batak, CMIIW) ini sempet hilang dari gubuk peristirahatannya, dan ditemukan di pinggir Sungai Deli. Padahal, pintu tempat persemayaman Meriam Puntung itu dalam keadaan terkunci. Tidak ada orang yang sanggup mengangkatnya, akhirnya beberapa kerabat kesultanan Deli datang dan berhasil membawanya kembali ke Istana Maimun dan dibuatkan pondok baru berbentuk rumah adat Karo.

Untuk masuk, per orang bisa bayar Rp 2000-3000 (buat masuk Istana Maimun juga segitu.. pinter-pinternya nawar) ke penjaganya atau dimasukkan ke kotak amal deket si meriam (Meriam Puntung tentunya, bukan Meriam Belina *halah*). Di meriam itu terdapat sebuah lubang. Penjaga disana mempersilahkan kita untuk mendengar suara dibalik lubang itu, suara air sungai (Deli) mengalir. Gw pun mencoba mendengarkan sambil membayangkan kalo gw Puteri Hijau.

Yang terdengar adalah suara mendengung. Iya sih, mirip suara air sungai, tapi setau gw dimana-mana pipa terbuka pasti bersuara kayak gitu. Inget pelajaran fisika dulu kan, tentang organa terbuka dan tertutup? Selama udara masih bisa keluar masuk pasti ada suara yang ditimbulkan. (There is explanation for everything, I love science).

Katanya, di daerah Deli tua ditemukan pesan Puteri Hijau seperti berikut, "jika ada wanita yang secantik diriku, maka dia pasti tidak sempurna." (Entah kenapa gw teringat si Anna, sama-sama dari Medan pulak. Jangan-jangan lu keturunan Puteri Hijau na, sama narsisnya)

Comments

Popular posts from this blog

Jeju Island in 3 Days

Jeju Island, the Hawaii of Korea, where couples usually go for honeymoon, and the place of many UNESCO Nature Heritage sites, is really beautiful and romantic. Some people say we need to spend at least 1 week to explore and experience the most of this island, but in my opinion 3 days are enough. Trust me, many places in Jeju only look good in advertisement, they're good at selling it. There are no interesting places in the North and West part of Jeju Island, so you can focus on East and South. East and South parts are amazingly naturally beautiful! Here's the itinerary I recommend.

Day-1: East of Jeju Island

Manjanggul / Manjang Cave
Spending time: 30-45 minutes
Hallasan, located in the middle of Jeju Island is the only volcanic mountain in Korea. It created several small volcanic mountains throughout Jeju Island, called Oreum in Korean. One of the biggest Oreum is Geomun Oreum, famous with its large lava tube system and designated as a UNESCO Natural Heritage site. It has few l…

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk

Transportation in Jeju Island

These are some remarks regarding public transportation in Jeju.
Buses in Jeju Island accept Seoul's t-money card. You can buy and top-up it in convenience store, like GS25 and Family Mart.City buses normally charge 1000won for cash, or 950won for t-money card. If you pay by card, tap it to the machine when you aboard and when you alight. If you transit between 2 buses during a certain times, fee for the next bus can be 0won, or free.Intercity buses vary depends on the distance, usually between 1000-3000won. There's no different fee paying with cash or card. When you aboard the bus, tell the driver about your destination, he will tell you how much it is, and you have to pay there directly. If you pay by card, no need to tap it again when you get off.There are 2 bus terminals in Seogwipo city. The main bus terminal is in the south-east of downtown, near the Jeongbang Waterfall, which is also the old one. The second one is to the right of the E-mart in front of the World Cup Stad…