Skip to main content

Mengunjungi Istana Maimoen (part 1)

Saatnya membuka kembali buku sejarah.

Pada abad ke-15, Kerajaan Haru yang berlokasi di Sumatera Timur (Bengkalis), is one of the biggest kingdoms, along with the Kingdom of Melaka (Imperium Melayu Riau-Johor) and the Kingdom of Aceh Darussalam. Hubungan yang erat antara Haru dan Melaka (dikarenakan adanya perkawinan antara Raja Haru dan Putri Raja Melaka) menyebabkan Aceh khawatir akan kekuasaannya di Sumatera, apalagi saat itu Portugis mulai mengambil alih pemerintahan Melaka. Aceh terus menerus menyerang Melaka dan Haru. Hingga akhirnya dibawah pimpinan Muhammad Dalik atau Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Khoja Bintan, Kesultanan Aceh dapat menaklukkan Haru. Sejak itu, Dalik dipercaya Sultan Aceh untuk menjadi wali negara di bekas Kerajaan Haru.

Pada tahun 1630 M, Dalik mendirikan Kerajaan Deli, setelah menikahi Puteri Nang Baluan Beru Subakti dari Batak Karo. For the detail explanation about this marriage, please let me quote from Melayu History:
Gocah Pahlawan menikah dengan adik Raja Urung (negeri) Sunggal yang bernama Puteri Nang Baluan Beru Surbakti. Sunggal merupakan sebuah daerah Batak Karo yang sudah masuk Melayu (Islam). Di daerah tersebut, ada empat Raja Urung Batak Karo yang sudah masuk Islam. Kemudian, empat Raja Urung Raja Batak tersebut mengangkat Laksamana Gocah Pahlawan sebagai raja di Deli pada tahun 1630 M. Dengan peristiwa itu, Kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan Laksamana Gocah Pahlawan menjadi Raja Deli pertama.

Setelah Dalik meninggal di tahun 1653, putranya Tuanku Panglima Perunggit mengambil alih kekuasaan dan pada tahun 1669 mengumumkan memisahkan kerajaannya dari Aceh, memanfaatkan situasi Aceh yang sedang melemah (katanya sih) karena dipimpin oleh raja perempuan (mungkin terpengaruh tradisi Minangkabau), Ratu Taj al-Alam Tsafiah al-Din (hey, what's wrong with a girl power??!). Ibu kotanya berada di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan. Makanya beberapa sumber menyebutkan bahwa Kerajaan Deli berdiri pada tahun 1669. Let me quote again:
Pada tahun 1723 M terjadi kemelut ketika Sultan Deli III mangkat, karena putera tertua Raja, Tuanku Umar, yang seharusnya menggantikannya memiliki cacat di matanya, sehingga tidak bisa menjadi raja. Putera nomor 2, Tuanku Pasutan yang sangat berambisi menjadi raja kemudian mengambil alih tahta dan mengusir adiknya bersama ibundanya Permaisuri Tuanku Puan Sampali ke wilayah Serdang. Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar yang seharusnya menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli, karena ia putera garaha (permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Untuk menghindari agar tidak terjadi perang saudara, maka 2 Orang Besar Deli, yaitu Raja Urung Sunggal dan Raja Urung Senembal, bersama seorang Raja Urung Batak Timur di wilayah Serdang bagian hulu (Tanjong Merawa), dan seorang pembesar dari Aceh (Kejeruan Lumu), lalu merajakan Tuanku Umar sebagai Raja Serdang pertama tahun 1723 M. Demikianlah akhirnya Kesultanan Deli terpecah menjadi dua: Deli dan Serdang.

OK, lupakan Kerajaan Serdang. Pada pertengahan abad ke-18:

Berkat perkebunan tembakau, Sultan Deli yang berkongsi dengan Belanda dalam membuka dan mengelola lahan perkebunan kemudian menjadi kaya raya. Dengan kekayaan yang melimpah ini, para sultan kemudian hidup mewah dan glamour dengan membangun istana yang mewah dan indah, membeli kuda pacu, mobil mewah dan sekoci pesiar, serta mengadakan berbagai pesta untuk menyambut para tamunya yang kebanyakan datang dari Eropa.

Peninggalan kekayaan tersebut adalah Istana Maimun yang masih berdiri megah di kota Medan hingga saat ini. Itulah tempat yang gw datangi saat gw berkunjung sebentar ke Medan minggu lalu. Istana ini didirikan pada tahun 1888 oleh Sultan Deli Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah sejak ibukota Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Istana ini bercorak Islam campur Eropa dengan warna kuning ngejreng, terdiri dari 3 bagian (tengah/utama, sayap kanan dan kiri), 2 lantai dan 40 kamar, dimana 20 kamar ada di lantai atas tempat singgasana sultan dan 20 lagi di bagian bawah. Yang bisa kita masuki adalah lantai atas bagian tengah saja (balairung), karena di bagian lain istana ini didiami oleh 20 keluarga keturunan Sultan Deli (saat mulai masuk gerbang istana, kelihatan deh banyak jemuran baju di halamannya. Lihat gambar paling atas!).

Di dalamnya ada pelaminan dan kursi singgasana yang juga serba kuning. Jadi agak merasa gimanaaa gitu duduk di singgasana raja/ratu jaman dulu. Fakta yang paling menarik adalah, kesultanan ini masih ada doooong! Dipegang oleh Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam (biasa dipanggil Aji) yang baru berumur 11 tahun! Dia dilantik 3 tahun yang lalu, saat ayahnya Letkol Inf Tito Otteman Padrab, Sultan Deli XIII yang bergelar Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam meninggal dunia karena kecelakaan pesawat saat mendarat di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe.

Karena Aji masih belum akhil baligh, maka tampuk kepemimpinan dipegang Raja Muda Deli, Tengku Hamdy Osman Deli Khan, yang masih terhitung kakeknya, adik dari Sultan Deli XII Azmy Perkasa Alam Alhaj. Tengku Hamdy memang sudah sering dijadikan Raja Muda Deli ketika Sultan Deli bepergian ke luar Medan. Bagi Kesultanan Deli, pengangkatan Aji merupakan sejarah, karena memecah rekor sultan termuda. Sultan termuda sebelumnya adalah Sultan Ma’moen Al Rasyid (1873-1924), yang diangkat pada umur 15 tahun. Katanya sekarang Aji tinggal di Makassar, ikut ibunya yang anak mantan gubernur Sulawesi Selatan Zainal Basri. Hayooo kejaaaar... cakep lohh anaknya (ayo ayo sini sama tante).

(sorry, angle-nya kurang pas. Yang ngambil gambarnya adek gw nih, makluum.. dia suka grogi kalo liat cowo cakep)

Jadi inget Goong! Ga usa jauh-jauh ke Korea deh, disini juga masih ada istana, pangeran dan kesultanan kerajaan. Kesultanan Deli sudah tidak mengatur pemerintahan lagi sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia, tetapi masih dianggap sebagai pemuka/datuk Sumatera Utara untuk menjaga adat istiadat dan budaya Melayu.

Comments

Popular posts from this blog

Jeju Island in 3 Days

Jeju Island, the Hawaii of Korea, where couples usually go for honeymoon, and the place of many UNESCO Nature Heritage sites, is really beautiful and romantic. Some people say we need to spend at least 1 week to explore and experience the most of this island, but in my opinion 3 days are enough. Trust me, many places in Jeju only look good in advertisement, they're good at selling it. There are no interesting places in the North and West part of Jeju Island, so you can focus on East and South. East and South parts are amazingly naturally beautiful! Here's the itinerary I recommend.

Day-1: East of Jeju Island

Manjanggul / Manjang Cave
Spending time: 30-45 minutes
Hallasan, located in the middle of Jeju Island is the only volcanic mountain in Korea. It created several small volcanic mountains throughout Jeju Island, called Oreum in Korean. One of the biggest Oreum is Geomun Oreum, famous with its large lava tube system and designated as a UNESCO Natural Heritage site. It has few l…

Transportation in Jeju Island

These are some remarks regarding public transportation in Jeju.
Buses in Jeju Island accept Seoul's t-money card. You can buy and top-up it in convenience store, like GS25 and Family Mart.City buses normally charge 1000won for cash, or 950won for t-money card. If you pay by card, tap it to the machine when you aboard and when you alight. If you transit between 2 buses during a certain times, fee for the next bus can be 0won, or free.Intercity buses vary depends on the distance, usually between 1000-3000won. There's no different fee paying with cash or card. When you aboard the bus, tell the driver about your destination, he will tell you how much it is, and you have to pay there directly. If you pay by card, no need to tap it again when you get off.There are 2 bus terminals in Seogwipo city. The main bus terminal is in the south-east of downtown, near the Jeongbang Waterfall, which is also the old one. The second one is to the right of the E-mart in front of the World Cup Stad…

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk