30 May 2017

Review: Hotel Dinasty Solo

Setelah 2 malam sebelumnya nginep di hotel yang asik, pas pindah nginep di Hotel Dinasty ini berasa 'culture shock' *halah*. Kamar Superior kami di lantai 1 dekat resepsionis dan tidak ada jendelanya. Ruangannya sempit karena terlalu banyak lemari yang menurut saya ga perlu. Dinding kamarnya persis berbatasan dengan dinding mesjid sebelah, tapi ga terlalu berisik sih pas Adzan. Mungkin kalau saya mesen kamar yang lebih mahal akan dapat kamar yang lebih nyaman. Menurut saya nuansa hotel bintang 2 ini agak suram dengan warna merah putih (nasionalis sekali).

22 May 2017

Road Trip Jawa Tengah: Solo

Ini adalah lanjutan seri postingan mengenai road trip saya dan keluarga ke Jawa Tengah akhir Desember lalu. Lihat postingan sebelumnya di Semarang dan di Bandungan. Dari Bandungan, kami menuju Solo/Surakarta, dan menginap disana 2 malam. Ngapain aja?

Malam pertama, setelah check-in di hotel, kami keluar mencari makanan khas Solo. Hasil browsing sana-sini, saya kami memutuskan untuk ke Nasi Liwet Bu Wongso Lemu di Jl. Teuku Umar. Pas belok di jalan itu, jeng jeng... banyak amat warung dengan nama Nasi Liwet Wongso Lemu, dan semuanya mengaku asli, yang mana yang beneran asli nih? Suami mutar jalan sekali lagi sambil saya cari tau di google. Saya nemu blog yang bilang kalau warung yang asli adalah yang ada tulisan Cipto Sukani di bawah nya, kalo itu sih memang cuma ada 1 warung tadi. Katanya Bu Wongso Lemu sudah meninggal dan yang meneruskan masakannya adalah 3 orang anaknya dan Cipto Sukani adalah anaknya yang tertua. Ga tau deh bener atau ga, tapi yang pasti perut sudah memanggil minta diisi jadi kami masuk ke Warung Nasi Liwet Wongso Lemu yang ada tulisan Cipto Sukani nya.

Nasi Liwet adalah nasi putih gurih yang disiram kuah santan berisi labu siam, suwiran ayam dan telur rebus, yang disajikan di pincuk daun pisang. Enak banget! Dua porsi nasi liwet, kerupuk, es jeruk dan es teh total 51ribu rupiah saja. Udah cukup murah dibandingkan makanan di Jakarta, tapi katanya Nasi Liwet Bu Wongso ini termasuk mahal di Solo.

Keesokan harinya setelah sarapan di hotel, kami mulai jalan-jalan di kota Solo dimulai dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Kami parkir mobil di parkiran Alun-Alun Utara yang dipadati oleh pedagang batik dan lainnya yang pindah sementara dari Pasar Klewer sebelah Keraton yang terbakar di akhir tahun 2014 yang lalu. Harga tiket masuk nya 10ribu/orang termasuk Museum Keraton di dalamnya. Karena saya waktu itu menggunakan celana pendek, saya diberi kain jarik untuk dililit menutupi kaki sebelum masuk ke bagian dalam Keraton. Selain itu alas kaki juga harus dilepaskan. Wah Nadya seneng banget deh nyeker. Kita bisa berkeliling sendirian atau bersama guide disana yang sudah agak tua dan menggunakan seragam abdi dalem Keraton. Tidak ada harga pasti sewa guide nya berapa tapi yang jelas kita harus ngasih tips di akhir tur. Guide nya juga menawarkan kami foto bersama mbok-mbok pelayan keluarga Raja, dan foto bersama dua penjaga Keraton yang menggunakan seragam security Keraton yang cukup gagah. Kami tidak berfoto dengan simbok2 tapi kami foto dengan 'security' Keraton yang memaksa kami memberikan tips. Agak pemerasan tapi ya sudahlah lumayan buat kenang-kenangan.

Lampu gantung ditutup biar ga berdebu, dan hanya dibuka kalau ada acara di Keraton