Skip to main content

Review: Hotel Dinasty Solo

Setelah 2 malam sebelumnya nginep di hotel yang asik, pas pindah nginep di Hotel Dinasty ini berasa 'culture shock' *halah*. Kamar Superior kami di lantai 1 dekat resepsionis dan tidak ada jendelanya. Ruangannya sempit karena terlalu banyak lemari yang menurut saya ga perlu. Dinding kamarnya persis berbatasan dengan dinding mesjid sebelah, tapi ga terlalu berisik sih pas Adzan. Mungkin kalau saya mesen kamar yang lebih mahal akan dapat kamar yang lebih nyaman. Menurut saya nuansa hotel bintang 2 ini agak suram dengan warna merah putih (nasionalis sekali).

Fasilitasnya ada kolam renang di lantai 1 dan fitness center di lantai 2. Saya tidak melihat-lihat gym nya, sedangkan kolam renang nya ada di depan ruang makan. Salah satu alasan milih hotel ini karena ada kolam renang nya, tapi pas sampe, kok kayanya ga nyaman berenang disana. Si anak N juga ga berminat celup-celup seperti biasa, mungkin udah puas main air di hotel sebelumnya di Semarang. Fasilitas dalam kamar nya ada free wifi (tapi sinyal kurang mantap), TV cable (cuma 2-3 siaran luar negeri nya), handuk dan peralatan mandi seadanya, shower dengan air panas, ga ada termos air tapi bisa langsung ambil air minum sendiri di dispenser di ruang makannya. Maklum, traveling dengan toddler selalu butuh air panas buat bikin susu.

Kolam renang di Hotel Dinasty Solo yang tidak terlalu menarik

Sarapan utamanya bukan buffet tapi dijatahkan satu orang satu piring nasi goreng (yang rasanya tidak terlalu enak). Selain itu disediakan juga roti tawar, selai, kopi, teh, satu jenis jus dan satu jenis buah (biasanya semangka) yang bisa diambil sepuasnya (dengan stok terbatas hehe). FYI saya booking hotel ini lewat pegipegi dengan harga Rp.405,000 untuk 2 malam. Murah banget kan? Jadi jangan terlalu banyak berharap dengan harga segitu haha.

Lokasinya menurut saya sih cukup di tengah kota, karena kami bawa mobil sendiri juga dan mau kemana-mana dekat. Mungkin karena emang kota Solo kecil dan ga macet ya. Hotel ini dekat dengan Taman Balekambang dan Pasar Burung. Katanya yang punya hotel ini adalah pemilik Batik Danar Hadi Solo yang terkenal itu.

Konsepnya sih bagus ya, budget smart hotel yang menyediakan banyak fasilitas (tapi minimalis), tapi sayangnya penampilan dan estetika tidak dirancang dengan bagus. Jadi menurut saya hotel nya kurang menarik dan kemungkinan besar saya tidak akan menginap disana lagi.

Comments

  1. Thats cool, jangan lupa mampir yah di http://turisindo.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Jeju Island in 3 Days

Jeju Island, the Hawaii of Korea, where couples usually go for honeymoon, and the place of many UNESCO Nature Heritage sites, is really beautiful and romantic. Some people say we need to spend at least 1 week to explore and experience the most of this island, but in my opinion 3 days are enough. Trust me, many places in Jeju only look good in advertisement, they're good at selling it. There are no interesting places in the North and West part of Jeju Island, so you can focus on East and South. East and South parts are amazingly naturally beautiful! Here's the itinerary I recommend.

Day-1: East of Jeju Island

Manjanggul / Manjang Cave
Spending time: 30-45 minutes
Hallasan, located in the middle of Jeju Island is the only volcanic mountain in Korea. It created several small volcanic mountains throughout Jeju Island, called Oreum in Korean. One of the biggest Oreum is Geomun Oreum, famous with its large lava tube system and designated as a UNESCO Natural Heritage site. It has few l…

Transportation in Jeju Island

These are some remarks regarding public transportation in Jeju.
Buses in Jeju Island accept Seoul's t-money card. You can buy and top-up it in convenience store, like GS25 and Family Mart.City buses normally charge 1000won for cash, or 950won for t-money card. If you pay by card, tap it to the machine when you aboard and when you alight. If you transit between 2 buses during a certain times, fee for the next bus can be 0won, or free.Intercity buses vary depends on the distance, usually between 1000-3000won. There's no different fee paying with cash or card. When you aboard the bus, tell the driver about your destination, he will tell you how much it is, and you have to pay there directly. If you pay by card, no need to tap it again when you get off.There are 2 bus terminals in Seogwipo city. The main bus terminal is in the south-east of downtown, near the Jeongbang Waterfall, which is also the old one. The second one is to the right of the E-mart in front of the World Cup Stad…

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk