25 July 2017

Road Trip Jawa Tengah: Dieng

Ini adalah lanjutan seri postingan Road Trip Jawa Tengah. Setelah hari sebelumnya menginap 2 malam di Solo lalu jalan-jalan sebentar di Ambarawa, kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo lalu ke Dieng.

Trip ke Dieng ini sebenarnya adalah perjalanan yang tertunda. Saya dan Suami sebelumnya pernah planning trip ke Dieng pada Bulan Desember 2013. Sudah booking transportasi dan penginapan dari jauh-jauh hari, tapi gagal berangkat karena saya hamil muda. Akhirnya kami jadi ke Dieng tiga tahun kemudian di Bulan Desember 2016 dengan satu personil tambahan yang tiga tahun lalu ada di dalam kandungan hehe.

Sebelum naik ke Dataran Tinggi Dieng, kami mampir dulu di Kota Wonosobo buat membeli salah satu makanan khas sana yaitu Mie Ongklok Pak Muhadi yang terkenal dengan Mie Ongklok dan Sate Sapi. Mie Ongklok berisi campuran mie, irisan kol dan daun bawang disiram kuah dan bumbu kacang, dengan hidangan pelengkap Sate Sapi, yumm! Karena kami baru late lunch dan ga sanggup buat makan lagi di tempat, jadi Mie Ongklok dan Sate Sapi nya dibungkus aja buat makan di homestay di Dieng nanti. Tadinya mau dimakan buat 'snack' sore, eh ternyata kami baru sampai di homestay sekitar pukul 6 sore, hujan deras, males keluar lagi, dan di sekitaran homestay tidak ada tempat makan. Untung sudah bungkus makanan tadi.

Jalanan naik menuju Dieng berkelok tepi jurang dan semakin sore semakin berkabut, jadi harus super hati-hati dan kalau bisa jangan terlalu sore kesananya. Rencana awal di Dieng adalah 2 malam, malam pertama menginap di dekat Bukit Sikunir untuk besok paginya melihat sunrise, dan malam kedua menginap di area pusat wisata Dieng. Bukit Sikunir lumayan jauh dari pusat wisata Dieng. Kalau menginap di area pusat wisata Dieng harus mulai berangkat jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Bukit Sikunir. Sedangkan kami yang menginap di Homestay Cahaya Sikunir di Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, bisa mulai berangkat jam 4 pagi. Penjaga homestay sempet menawarkan apakah kami butuh guide untuk pendakian esok pagi, tapi kami bilang akan jalan sendiri saja (pede banget!). Homestay nya sudah masuk dalam kawasan Bukit Sikunir jadi harus bayar tiket Rp.10,000/orang. Awalnya kami bete, ini apa-apaan sih baru mau check-in kok sudah dipalak, tapi ternyata memang valid :P

Kami tidak kesulitan bangun esok subuhnya karena dari jam 8 malam sebelumnya sudah tidur haha abis ga bisa ngapa-ngapain juga, sinyal internet susah dan sinyal TV di kamar juga tidak ada (TV nya sih ada tapi ga bisa nonton haha sama aja). Ada sih TV di ruang bersama tapi males keluar kamar, pengennya gelogeran di kasur, tapi kan ga enak tidur-tiduran di ruang TV di depan tamu-tamu lain. Anyway, dari homestay kami berjalan ke Basecamp Bukit Sikunir yang jaraknya hanya sekitar 600 meter. Ga tau juga ya kenapa waktu itu memilih berjalan kaki saja daripada membawa mobil, mungkin karena males nanti cari parkir nya lagi, baik pas di Basecamp maupun pas balik ke homestay lagi. Homestay nya sendiri sih bagus tapi tempat parkir nya tidak terlalu besar, jadi bisa parkir di pinggir jalan. Semua homestay di Dieng rata-rata gitu sih. Review homestay lengkap nya nanti di next post ya. Ternyata parkiran di Basecamp besar, bahkan banyak bis yang membawa turis kesana. Tapi ga nyesel juga sih ga bawa mobil, karena udaranya fresh banget buat berjalan kaki, terutama di jalan baliknya dengan pemandangan Telaga Cebong, danau yang bentuknya mirip kecebong.

Jalanan antara Basecamp dan Homestay Cahaya Sikunir di pinggir Telaga Cebong