08 August 2017

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk homestay pertama, katanya perlu DP, tapi sampai hari H saya ke Dieng belum dikirimkan juga no rekening yang bisa ditransfer. Modal percaya saja deh ada kamar yang sudah disiapkan buat kami. Sedangkan untuk homestay kedua ga perlu DP sama sekali, nanti saja katanya langsung bayar pas datang. Tapi akhirnya kami tidak jadi menginap di homestay kedua ini, lihat ceritanya di post sebelumnya. Jadi yang bisa di-review disini hanya Homestay Cahaya Sikunir.

25 July 2017

Road Trip Jawa Tengah: Dieng

Ini adalah lanjutan seri postingan Road Trip Jawa Tengah. Setelah hari sebelumnya menginap 2 malam di Solo lalu jalan-jalan sebentar di Ambarawa, kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo lalu ke Dieng.

Trip ke Dieng ini sebenarnya adalah perjalanan yang tertunda. Saya dan Suami sebelumnya pernah planning trip ke Dieng pada Bulan Desember 2013. Sudah booking transportasi dan penginapan dari jauh-jauh hari, tapi gagal berangkat karena saya hamil muda. Akhirnya kami jadi ke Dieng tiga tahun kemudian di Bulan Desember 2016 dengan satu personil tambahan yang tiga tahun lalu ada di dalam kandungan hehe.

Sebelum naik ke Dataran Tinggi Dieng, kami mampir dulu di Kota Wonosobo buat membeli salah satu makanan khas sana yaitu Mie Ongklok Pak Muhadi yang terkenal dengan Mie Ongklok dan Sate Sapi. Mie Ongklok berisi campuran mie, irisan kol dan daun bawang disiram kuah dan bumbu kacang, dengan hidangan pelengkap Sate Sapi, yumm! Karena kami baru late lunch dan ga sanggup buat makan lagi di tempat, jadi Mie Ongklok dan Sate Sapi nya dibungkus aja buat makan di homestay di Dieng nanti. Tadinya mau dimakan buat 'snack' sore, eh ternyata kami baru sampai di homestay sekitar pukul 6 sore, hujan deras, males keluar lagi, dan di sekitaran homestay tidak ada tempat makan. Untung sudah bungkus makanan tadi.

Jalanan naik menuju Dieng berkelok tepi jurang dan semakin sore semakin berkabut, jadi harus super hati-hati dan kalau bisa jangan terlalu sore kesananya. Rencana awal di Dieng adalah 2 malam, malam pertama menginap di dekat Bukit Sikunir untuk besok paginya melihat sunrise, dan malam kedua menginap di area pusat wisata Dieng. Bukit Sikunir lumayan jauh dari pusat wisata Dieng. Kalau menginap di area pusat wisata Dieng harus mulai berangkat jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Bukit Sikunir. Sedangkan kami yang menginap di Homestay Cahaya Sikunir di Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, bisa mulai berangkat jam 4 pagi. Penjaga homestay sempet menawarkan apakah kami butuh guide untuk pendakian esok pagi, tapi kami bilang akan jalan sendiri saja (pede banget!). Homestay nya sudah masuk dalam kawasan Bukit Sikunir jadi harus bayar tiket Rp.10,000/orang. Awalnya kami bete, ini apa-apaan sih baru mau check-in kok sudah dipalak, tapi ternyata memang valid :P

Kami tidak kesulitan bangun esok subuhnya karena dari jam 8 malam sebelumnya sudah tidur haha abis ga bisa ngapa-ngapain juga, sinyal internet susah dan sinyal TV di kamar juga tidak ada (TV nya sih ada tapi ga bisa nonton haha sama aja). Ada sih TV di ruang bersama tapi males keluar kamar, pengennya gelogeran di kasur, tapi kan ga enak tidur-tiduran di ruang TV di depan tamu-tamu lain. Anyway, dari homestay kami berjalan ke Basecamp Bukit Sikunir yang jaraknya hanya sekitar 600 meter. Ga tau juga ya kenapa waktu itu memilih berjalan kaki saja daripada membawa mobil, mungkin karena males nanti cari parkir nya lagi, baik pas di Basecamp maupun pas balik ke homestay lagi. Homestay nya sendiri sih bagus tapi tempat parkir nya tidak terlalu besar, jadi bisa parkir di pinggir jalan. Semua homestay di Dieng rata-rata gitu sih. Review homestay lengkap nya nanti di next post ya. Ternyata parkiran di Basecamp besar, bahkan banyak bis yang membawa turis kesana. Tapi ga nyesel juga sih ga bawa mobil, karena udaranya fresh banget buat berjalan kaki, terutama di jalan baliknya dengan pemandangan Telaga Cebong, danau yang bentuknya mirip kecebong.

Jalanan antara Basecamp dan Homestay Cahaya Sikunir di pinggir Telaga Cebong

17 June 2017

Road Trip Jawa Tengah: Ambarawa

Ini adalah lanjutan seri postingan mengenai road trip saya dan keluarga ke Jawa Tengah akhir Desember lalu (ya ampun sudah 6 bulan belum juga move on) setelah Semarang, Bandungan dan Solo. Dari Solo, kami menuju ke Dieng melewati Ambarawa. Sebenarnya waktu dari Bandungan ke Solo kami melewati Ambarawa juga tetapi tidak sempat mampir karena sudah kesorean.

Berangkat dari Solo jam 8 pagi, kami tiba di Ambarawa sekitar jam 10. Tujuan pertama dan highlight hari itu adalah Museum Kereta Api (KA) Ambarawa. Niatnya sih pengen naik Kereta Wisata yang katanya melewati Rawa Pening dengan pemandangan gunung yang bagus banget, tapi ternyata hanya beroperasi Sabtu Minggu, sedangkan saya kesana hari Jumat (iyah, 'hoki banget'). Buat yang mau naik kereta wisata di museum ini, ada 2 rute yang disediakan yaitu Wisata Reguler Kereta Diesel Ambarawa-Tuntang dan Wisata Sewa Kereta Uap Ambarawa-Tuntang dan Ambarawa-Bedono. Bedanya apa? Wisata Reguler bisa dinikmati dengan membeli tiket seharga Rp.50,000/orang dengan 3 jadwal berangkat per hari yaitu pukul 10:00, 12:00 dan 14:00. Jalur Ambarawa-Tuntang ditempuh kurang lebih 1 jam bolak-balik dan diberi waktu beberapa menit untuk foto-foto di Stasiun Tuntang sebelum balik ke Ambarawa. Karena kapasitas yang terbatas, yaitu 120 orang saja sekali trip, siap-siap kehabisan tiket kalau tidak mulai mengantri jam 8 pagi saat museum dibuka.

30 May 2017

Review: Hotel Dinasty Solo

Setelah 2 malam sebelumnya nginep di hotel yang asik, pas pindah nginep di Hotel Dinasty ini berasa 'culture shock' *halah*. Kamar Superior kami di lantai 1 dekat resepsionis dan tidak ada jendelanya. Ruangannya sempit karena terlalu banyak lemari yang menurut saya ga perlu. Dinding kamarnya persis berbatasan dengan dinding mesjid sebelah, tapi ga terlalu berisik sih pas Adzan. Mungkin kalau saya mesen kamar yang lebih mahal akan dapat kamar yang lebih nyaman. Menurut saya nuansa hotel bintang 2 ini agak suram dengan warna merah putih (nasionalis sekali).