26 August 2017

The Lost Wanderer Itinerary Series: Busan

Busan may not be as favorite as Seoul and Jeju, but it can be an alternative to explore as the largest port city in South Korea. Except than the beach and port, the city itself almost resembles Seoul (maybe in few years back :p). How lovely the life of Busan people, they are living in a big city with many good facilities, yet they can easily reach beautiful beaches within the city.

Another reason to travel to Busan especially for South East Asians, there is flight AirAsia from KL to Busan which usually cheaper than KL to Seoul, vice versa. Some travelers opt to travel to Busan first then take the local transportation to the other part of South Korea.

For you who wants to travel to Busan and needs some ideas where and how to go around or just wants to read my story (hehe :p), you can download and read my second itinerary series ebook for free in this link (please open it using browser, not Scribd mobile app, because it does not work in the mobile app, I don't know why). 


In this ebook, I share the story of my trip to Busan almost 6 years ago. Long time ago, but the information is still valid. It was a short trip though, only 2 days 1 night, not as long as my first ebook (Gyeongju), but hopefully it would be much useful. If you also read my Gyeongju ebook, you can see that the book format is the same. This is the format I will always use in what I called as The Lost Wanderer Itinerary Series (TLWIS).

Hope you enjoy reading it as much as I enjoy writing it, even though it took me more than a year to write haha. Off I go now to write the next one. Hmmm maybe after cuddling my daughter first... and finish that book on the shelf... and.... well, see ya! :)

24 August 2017

Review: M-Griya Guest House di Purwokerto

Tiba-tiba kami menginap di Purwokerto (baca lengkap ceritanya disini). Setelah compare harga dan ratings sana-sini, akhirnya saya booking M-Griya Guest House Purwokerto lewat Pegipegi 3 jam sebelum check-in. Untung masih dapat kamar, dan harganya murah banget Rp.215,000 sudah include breakfast. Was-was juga, kondisi penginapannya bagaimana ya?

Ternyata menginap di M-Griya Guest House itu nyaman sekali. Di dalam kamarnya ada 1 double bed, TV, free wifi, AC dan kamar mandi dengan air panas dan peralatan mandi lengkap. Sebenernya fasilitasnya hampir sama dengan hotel yang kami inapi di Solo (bahkan minus kolam renang), tapi berasa nyaman sekali mungkin karena malam sebelumnya kami menginap di homestay yang sederhana di Dieng, sedangkan malam sebelum kami menginap di hotel di Solo kami menginap di hotel di Semarang yang super nyaman hehe.

Kamar kami yang terletak di lantai 2 ada jendela nya tapi menghadap ke salah satu ruang tengah guesthouse yang mudah dilihat oleh tamu lain atau staff yang lalu lalang atau nongkrong disana, jadi gorden nya selalu kami tutup. Namanya juga kamar standar yang paling murah. Tapi gapapa, karena kami sampai disana juga udah malam dan checkout besoknya pagi-pagi. Walaupun di dalam kamarnya tidak disediakan pemanas air minum, kopi, teh dan gula tapi semua itu ada di ruangan tengah yang bisa diambil sepuasnya. Konsepnya penginapan rumahan, ada beberapa ruang tengah di lantai 1 dan 2. Ruang santai yang paling dekat dengan kamar kami berisi sofa dan kursi unik warna-warni, ayunan sangkar nge-hits dan instagrammable, pantry dan dapur bisa numpang masak, minjem dan nyuci piring gelas.

Salah satu ruang santai

08 August 2017

Review: Homestay Cahaya Sikunir Dieng

Mencari penginapan di Dieng itu susah-susah gampang. Disana tidak ada hotel, adanya penginapan rumahan atau homestay. Beberapa turis kadang menginap di kota Wonosobo, sekitar sejam dari Dieng, demi mendapat penginapan yang bagus. Pilihan di travel apps hanya sedikit dan kurang cocok. Setelah browsing sana-sini, terutama baca review blog orang, saya hubungi beberapa homestay di Dieng baik lewat telpon maupun Whatsapp. Saat kami sudah mulai road trip Jawa Tengah tanggal 12 Desember, kami masih belum tau mau menginap dimana di Dieng tanggal 17 Desember nya. Karena waktu itu kami belum fix juga sih mau berapa malam di Dieng, 1 atau 2 malam? Kalau 2 malam, keduanya di homestay yang sama atau ganti homestay?

Akhirnya tanggal 16 Desember, sehari sebelum ke Dieng (saat itu kami di Solo), kami memutuskan untuk menginap 2 malam di Dieng. Malam pertama di Homestay Cahaya Sikunir, karena keesokan subuh nya mau sok-sokan melihat sunrise di Bukit Sikunir, dan malam kedua di Homestay Serayu. Untuk homestay pertama, katanya perlu DP, tapi sampai hari H saya ke Dieng belum dikirimkan juga no rekening yang bisa ditransfer. Modal percaya saja deh ada kamar yang sudah disiapkan buat kami. Sedangkan untuk homestay kedua ga perlu DP sama sekali, nanti saja katanya langsung bayar pas datang. Tapi akhirnya kami tidak jadi menginap di homestay kedua ini, lihat ceritanya di post sebelumnya. Jadi yang bisa di-review disini hanya Homestay Cahaya Sikunir.

25 July 2017

Road Trip Jawa Tengah: Dieng

Ini adalah lanjutan seri postingan Road Trip Jawa Tengah. Setelah hari sebelumnya menginap 2 malam di Solo lalu jalan-jalan sebentar di Ambarawa, kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo lalu ke Dieng.

Trip ke Dieng ini sebenarnya adalah perjalanan yang tertunda. Saya dan Suami sebelumnya pernah planning trip ke Dieng pada bulan Desember 2013. Sudah booking transportasi dan penginapan dari jauh-jauh hari, tapi gagal berangkat karena saya hamil muda. Akhirnya kami jadi ke Dieng tiga tahun kemudian di bulan Desember 2016 dengan satu personil tambahan yang tiga tahun lalu ada di dalam kandungan hehe.

Sebelum naik ke Dataran Tinggi Dieng, kami mampir dulu di Kota Wonosobo buat membeli salah satu makanan khas sana yaitu Mie Ongklok Pak Muhadi yang terkenal dengan Mie Ongklok dan Sate Sapi. Mie Ongklok berisi campuran mie, irisan kol dan daun bawang disiram kuah dan bumbu kacang, dengan hidangan pelengkap Sate Sapi, yumm! Karena kami baru late lunch dan ga sanggup buat makan lagi di tempat, jadi Mie Ongklok dan Sate Sapi nya dibungkus aja buat makan di homestay di Dieng nanti. Tadinya mau dimakan buat 'snack' sore, eh ternyata kami baru sampai di homestay sekitar pukul 6 sore, hujan deras, males keluar lagi, dan di sekitaran homestay tidak ada tempat makan. Untung sudah bungkus makanan tadi.

Jalanan naik menuju Dieng berkelok tepi jurang dan semakin sore semakin berkabut, jadi harus super hati-hati dan kalau bisa jangan terlalu sore kesananya. Rencana awal di Dieng adalah 2 malam, malam pertama menginap di dekat Bukit Sikunir untuk besok paginya melihat sunrise, dan malam kedua menginap di area pusat wisata Dieng. Bukit Sikunir lumayan jauh dari pusat wisata Dieng. Kalau menginap di area pusat wisata Dieng harus mulai berangkat jam 3 pagi untuk mengejar sunrise di Bukit Sikunir. Sedangkan kami yang menginap di Homestay Cahaya Sikunir di Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, bisa mulai berangkat jam 4 pagi. Penjaga homestay sempet menawarkan apakah kami butuh guide untuk pendakian esok pagi, tapi kami bilang akan jalan sendiri saja (pede banget!). Homestay nya sudah masuk dalam kawasan Bukit Sikunir jadi harus bayar tiket Rp.10,000/orang. Awalnya kami bete, ini apa-apaan sih baru mau check-in kok sudah dipalak, tapi ternyata memang valid :P

Kami tidak kesulitan bangun esok subuhnya karena dari jam 8 malam sebelumnya sudah tidur haha abis ga bisa ngapa-ngapain juga, sinyal internet susah dan sinyal TV di kamar juga tidak ada (TV nya sih ada tapi ga bisa nonton haha sama aja). Ada sih TV di ruang bersama tapi males keluar kamar, pengennya gelogeran di kasur, tapi kan ga enak tidur-tiduran di ruang TV di depan tamu-tamu lain. Anyway, dari homestay kami berjalan ke Basecamp Bukit Sikunir yang jaraknya hanya sekitar 600 meter. Ga tau juga ya kenapa waktu itu memilih berjalan kaki saja daripada membawa mobil, mungkin karena males nanti cari parkir nya lagi, baik pas di Basecamp maupun pas balik ke homestay lagi. Homestay nya sendiri sih bagus tapi tempat parkir nya tidak terlalu besar, jadi bisa parkir di pinggir jalan. Semua homestay di Dieng rata-rata gitu sih. Review homestay lengkap nya nanti di next post ya. Ternyata parkiran di Basecamp besar, bahkan banyak bis yang membawa turis kesana. Tapi ga nyesel juga sih ga bawa mobil, karena udaranya fresh banget buat berjalan kaki, terutama di jalan baliknya dengan pemandangan Telaga Cebong, danau yang bentuknya mirip kecebong.

Jalanan antara Basecamp dan Homestay Cahaya Sikunir di pinggir Telaga Cebong