22 May 2017

Road Trip Jawa Tengah: Solo

Ini adalah lanjutan seri postingan mengenai road trip saya dan keluarga ke Jawa Tengah akhir Desember lalu. Lihat postingan sebelumnya di Semarang dan di Bandungan. Dari Bandungan, kami menuju Solo/Surakarta, dan menginap disana 2 malam. Ngapain aja?

Malam pertama, setelah check-in di hotel, kami keluar mencari makanan khas Solo. Hasil browsing sana-sini, saya kami memutuskan untuk ke Nasi Liwet Bu Wongso Lemu di Jl. Teuku Umar. Pas belok di jalan itu, jeng jeng... banyak amat warung dengan nama Nasi Liwet Wongso Lemu, dan semuanya mengaku asli, yang mana yang beneran asli nih? Suami mutar jalan sekali lagi sambil saya cari tau di google. Saya nemu blog yang bilang kalau warung yang asli adalah yang ada tulisan Cipto Sukani di bawah nya, kalo itu sih memang cuma ada 1 warung tadi. Katanya Bu Wongso Lemu sudah meninggal dan yang meneruskan masakannya adalah 3 orang anaknya dan Cipto Sukani adalah anaknya yang tertua. Ga tau deh bener atau ga, tapi yang pasti perut sudah memanggil minta diisi jadi kami masuk ke Warung Nasi Liwet Wongso Lemu yang ada tulisan Cipto Sukani nya.

Nasi Liwet adalah nasi putih gurih yang disiram kuah santan berisi labu siam, suwiran ayam dan telur rebus, yang disajikan di pincuk daun pisang. Enak banget! Dua porsi nasi liwet, kerupuk, es jeruk dan es teh total 51ribu rupiah saja. Udah cukup murah dibandingkan makanan di Jakarta, tapi katanya Nasi Liwet Bu Wongso ini termasuk mahal di Solo.

Keesokan harinya setelah sarapan di hotel, kami mulai jalan-jalan di kota Solo dimulai dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Kami parkir mobil di parkiran Alun-Alun Utara yang dipadati oleh pedagang batik dan lainnya yang pindah sementara dari Pasar Klewer sebelah Keraton yang terbakar di akhir tahun 2014 yang lalu. Harga tiket masuk nya 10ribu/orang termasuk Museum Keraton di dalamnya. Karena saya waktu itu menggunakan celana pendek, saya diberi kain jarik untuk dililit menutupi kaki sebelum masuk ke bagian dalam Keraton. Selain itu alas kaki juga harus dilepaskan. Wah Nadya seneng banget deh nyeker. Kita bisa berkeliling sendirian atau bersama guide disana yang sudah agak tua dan menggunakan seragam abdi dalem Keraton. Tidak ada harga pasti sewa guide nya berapa tapi yang jelas kita harus ngasih tips di akhir tur. Guide nya juga menawarkan kami foto bersama mbok-mbok pelayan keluarga Raja, dan foto bersama dua penjaga Keraton yang menggunakan seragam security Keraton yang cukup gagah. Kami tidak berfoto dengan simbok2 tapi kami foto dengan 'security' Keraton yang memaksa kami memberikan tips. Agak pemerasan tapi ya sudahlah lumayan buat kenang-kenangan.

Lampu gantung ditutup biar ga berdebu, dan hanya dibuka kalau ada acara di Keraton

14 April 2017

Review: Hotel Oak Tree Emerald Semarang

Waktu nyari-nyari penginapan di Semarang, nemu hotel ini, lihat-lihat foto dan review nya, eh kok keren juga ya. Lokasinya secluded di dalam kompleks perumahan elit dan agak tinggi dengan pemandangan bukit. Wow ada ya penginapan seperti itu di Kota Semarang? Jaraknya walaupun bukan di tengah kota, tapi tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6km (15 menit berkendara) dari Simpang Lima (yang saya anggap tengah kota nya Semarang lah ya). Sempet mikir-mikir, ambil hotel yang bener-bener di tengah kota atau hotel unik ini ya. Ah yang ini aja deh, kan liburannya santai banget-nget dan bawa mobil sendiri jadi transportasi ga susah walaupun tempatnya terpencil. Next time kalau ke Semarang tanpa kendaraan atau tidak punya banyak waktu, baru deh nginep di tengah kota. Jadilah booking hotel ini di tiket.com dengan tarif sekitar 650ribu rupiah untuk 2 malam.

Namanya Oak Tree Emerald, hotel bintang 3 dengan fasilitas kolam renang dan fitness center. Setelah check-in kami langsung main-main ke kolam renang yang view nya bagusss banget. Pool nya ada 2, satu buat dewasa dan satu kolam cetek buat anak-anak. Ada mainan manjat-manjatan juga, sayang sudah agak rusak dan ga bisa dimainkan oleh anak-anak lagi. Restorannya juga di lantai 1 ini. Ternyata tempat ini beken di kalangan anak muda. Di sebelah restoran ada bar menghadap kolam renang yang kalau malam ada DJ nya... ajeb ajeb. Hmm sepertinya banyak yang mau melewatkan malam tahun baruan disini.

Swimming Pool at Oak Tree Emerald Hotel

Saya minta kamar dengan view ke luar, bukan ke dalam. Sayangnya hanya tinggal 1 kamar dengan view ke luar tapi di lantai 2 saja (jadi pemandangannya ga terlalu tinggi) dan tempat tidur nya twin bed. Padahal kami butuh yang double bed. Ada kamar yang double bed tapi view nya ke dalam. Hummm I chose view than bed ya hehe bisa minta tolong petugas hotel buat satuin tempat tidur nya jadi seakan-akan double bed. Bahkan jadi lebih luas deh dibanding 1 double bed yang (biasanya) berukuran 200x200. Ini satu single bed ny ukuran 120x200, jadi total 240x200, puasss deh si N guling sana guling sini. Kamarnya memiliki balkon tapi kalau mau kuncinya harus tanda tangan dulu surat pernyataan bahwa hotel tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dan surat penyerahan kunci balkon yang kalau kuncinya hilang kita harus bayar (saya lupa denda nya berapa). Wow sampe segitunya ya. Ya saya tetep minta deh kunci nya, walaupun pada akhirnya selama 2 malam 3 hari disana ga pernah dipake karena balkonnya kotor dan ada sisa-sisa batang rokok yang tidak dibersihkan. Sayang banget! Tapi bagian dalam kamarnya nyaman banget dengan lantai kayu parkit dan fasilitas lengkap: water heater, TV cable, hot shower and safe deposit box.

Our room at Oak Tree Emerald Hotel

Biasanya kebanyakan hotel hanya memberikan free breakfast ya, tapi hotel ini juga ngasih kami free voucher buat snack sore dan makan malam untuk 2 hari selama kami menginap disana. Uwow! Di hari pertama kami melewatkan sore di hotel saja jadi sempet nukerin voucher snack nya sambil berenang, walaupun hanya beberapa potong kue dan teh/kopi (yang tersedia juga di dalam kamar). Tapi malam hari nya kami makan di luar dan tidak menikmati makan malam gratis di hotel. Sedangkan keesokan harinya kami jalan-jalan di luar hotel sampai malam jadi tidak menggunakan voucher snack hari keduanya, tapi kami nyobain makan malam gratisnya yang ternyata cuma ada 1 menu yaitu nasi goreng hehe. Lumayan lah ya.

Overall saya dan keluarga seneng banget menginap disini, dan hotel favorit kami di antara 4 penginapan berbeda yang kami nginap selama road trip Jawa Tengah. Saya sangat merekomendasikan hotel ini terutama bagi yang ingin mencoba stay di hotel dengan pemandangan alam yang agak terpencil di Semarang tapi tidak terlalu jauh dari tengah kota.

Baca juga perjalanan kami di Semarang dan Bandungan.

04 April 2017

Road Trip Jawa Tengah: Bandungan

Ini adalah lanjutan seri postingan mengenai road trip Saya dan keluarga ke Jawa Tengah akhir Desember lalu. Lihat cerita sebelumnya di Semarang disini.

Jadi, ada apa sih di Bandungan? Ada Tempat Rekreasi Umbul Sidomukti dan Kawasan Candi Gedung Songo. Dua tempat wisata yang Kami datangi ini letaknya di Bandungan, salah satu kecamatan di Kabupaten Semarang yang bersampingan dengan Kecamatan Ungaran. Letaknya di lereng Gunung Ungaran, jadi banyak yang bilang juga lokasinya di Ungaran.

Si Suami udah pernah ke Umbul Sidomukti sekitar 7 tahun yang lalu, di saat jalanan nya masih jelek, sempit dan mengerikan (kiri kanan jurang), katanya sih. Makanya dia agak was-was gitu pas diajakin kesini (kan Saya belum pernah). Ternyata jalanannya bagus tuh, dan ada alur nya dimana kendaraan yang naik dengan yang turun dibedakan jalannya sehingga tidak akan berpapasan. Wisata alam pegunungan ini terletak sekitar 30km (1 jam 15 menit berkendara) dari Kota Semarang dan berada di ketinggian 1200 mdpl, jadi wajib hukumnya bawa jaket. Di area ini ada fasilitas penginapan, restoran dan wahana-wahana seperti kolam renang (pasti dingin banget!), flying fox, berkuda, ATV, dan lain-lain. Biaya masuk nya sendiri murah hanya Rp.3000/mobil dan Rp.2000/orang, tapi itu tidak termasuk harga wahana-wahana nya. Kami hanya coba masuk ke Goa Tirta Mulya dan makan siang di restoran Pondok Kopi.

Pemandangan di ujung Goa Tirta Mulya

Biaya masuk Goa Tirta Mulya adalah Rp.5000/orang. Panjang goa nya hanya 100 meter tapi suasana di dalamnya gelap dengan sedikiiiit banget cahaya yang masuk, jadi mesti nyalain senter atau handphone. Tapi saat sampai di ujung nya, whoaaa pemandangan lembah dan gunung nya luar biasa bagus! Worth it deh jalan gelap-gelapan kesana (baliknya juga lewatin jalan yang sama tadi). Sehabis dari goa, Kami makan siang di Pondok Kopi sambil menikmati pemandangan gunung lagi yang cantik. Makanannya sih standard yah ayam bakar/goreng/kremes, nasi goreng dll, tapi pemandangan alam di sekitar kompleks ini refreshing banget! Jadi pengen nginep di penginapannya next time hehe.

Hangout di Pondok Kopi Umbul Sidomukti

30 March 2017

Road Trip Jawa Tengah: Semarang

Desember lalu saya dan tim The Lost Wanderer (aka Suami dan Anak N haha) liburan akhir tahun yang tidak terlalu akhir. Biasanya orang-orang liburan di minggu terakhir Desember pas Natal dan Tahun Baru, tapi kami liburan di minggu kedua Desember (tanggal 12-19). Keputusan yang tepat, karena kemana-mana masih belum ramai, dan harga hotel juga belum naik banget. Dan saat kami balik ke Ibukota, penduduk Jakarta akan mulai liburan dan kami bisa menikmati kota Jakarta yang lengang selama beberapa minggu.

Kali ini kami jalan-jalan keliling Jawa Tengah selama 7 hari dengan mobil pribadi, road trip pertama kali hanya bertiga saja, dengan tujuan Semarang, Bandungan, Solo, Ambarawa dan Dieng. Di posting-an pertama seri Road Trip Jawa Tengah ini akan saya ceritakan tentang perjalanan kami ke Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 6 pagi lewat tol Cipali ke arah Brebes, dan dari Brebes ke Semarang melewati jalan Pantura biasa. Tol baru ini bener-bener membantu transportasi ke Jawa ya karena perjalanan jadi cepat dan nyaman. Mudah-mudahan tol nya segera selesai sampai ke Semarang deh. Di antara Brebes dan Semarang, kami mampir istirahat setengah jam dulu di Kota Pekalongan, lumayan si Suami stretching badan buat nanti lanjut nyetir lagi hehe. Di kota yang terkenal dengan Batik nya ini tentu saja ada Museum Batik. Dengan tiket masuk Rp.5000/orang kami melihat-lihat ke dalam museum itu. Bangunannya tua (dan agak serem hehe) peninggalan Belanda, terdiri dari beberapa ruangan display yang menampilkan bermacam-macam batik, tidak hanya dari Pekalongan saja. Di bagian belakang ada kantin kecil dan area workshop buat yang mau belajar mem-batik. Di seberang gedung ini ada Alun-Alun Jatayu, atau disebut juga dengan Alun-Alun Batik karena ada pajangan huruf B-A-T-I-K besar di sana yang keren buat spot foto.

Alun-Alun Batik Pekalongan

Sampai di Semarang sekitar pukul 1, kami makan siang dulu di Tahu Gimbal Pak Edi di Jalan Pandanaran dekat Simpang Lima, hasil browsing di internet. Masakan ini berisi tahu, gimbal (bakwan) udang yang dipotong-potong kecil ditambah irisan kol dan telur goreng di atasnya lalu disiram dengan bumbu kacang petis encer. Yang bikin enak ya bumbu siram nya. Kami mesen 1 Tahu Gimbal, 1 Mie Bakso, 1 Es Campur dan 1 Es Jeruk total Rp.43,000 saja. Di Warung Tahu Gimbal Pak Edi ini, dudukannya lesehan, bersama dengan warung-warung lainnya. Letaknya di pinggir jalan sepanjang Taman Menteri Supeno. Sekilas melihat di taman nya ada tempat mainan anak-anak, tapi ga jadi mampir. Biasa deh suka duka traveling dengan balita, tiba-tiba si N pup (masih pakai popok instan sih), dan pas mau bilas di toilet taman nya, eugh toilet nya kotor, bau dan gada air. Jadinya kami langsung meluncur ke hotel yang sudah kami booking, Oak Tree Emerald, sekitar 6km (15menit) dari tempat makan itu.

Tahu Gimbal dan Mie Bakso