07 October 2017

WTM#1: Perpustakaan Nasional

Welcome to Weekend Tanpa Mall (WTM) series!

Postingan pertama di seri WTM ini akan menceritakan tentang perpustakaan yang keluarga saya kunjungi hari Sabtu lalu. Ini bukan Perpustakaan Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini langganan kami, tapi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang baru diresmikan 3 minggu lalu oleh Presiden kita. Dari postingan-postingan yang beredar di sosial media, katanya perpustakaan ini baru akan dibuka untuk umum tanggal 9 Oktober 2017. Tapi kok sudah banyak yang pamer foto-foto disana? Wah saya pun tidak mau kalah dan penasaran untuk segera kesana.

Awalnya saya kira Perpusnas baru yang disebut-sebut ini adalah Perpusnas tua di Salemba yang dirombak jadi baru. Ternyata bukan, gedung Perpusnas hits ini berada di lokasi lain yaitu di Jl. Medan Merdeka Selatan No.11 di samping Balai Kota Jakarta dan di seberang Monas. Saya baru tau kalau di lokasi itu tadinya memang adalah gedung Perpusnas, tapi cuma 3 tingkat dan tidak menarik. Mungkin selama ini ga ngeh karena sejak tahun 2013 ditutupi papan-papan proyek untuk direnovasi, yang akhirnya selesai tahun ini. Dan hasilnya keren. Perpustakaan tertinggi di dunia.

Keterangan semua lantai

Dari parkiran basement, kami naik lift menuju Lantai 2 dulu. Begitu lift terbuka, woah saya langsung takjub melihat display rak buku tinggi dari Lantai 1 ke Lantai 4. Sepertinya buku-buku ini cuma buat pajangan sih, bukan dipinjem. Di Lantai 2 ini ada 3 counter staff dan belasan PC untuk mendaftar sebagai anggota. Suami mengisi data diri di salah satu PC, sedangkan saya yang sudah daftar lewat website Perpusnas, hanya perlu menuliskan nomor anggota di PC lain lalu mendapat nomor antrian. Niatnya sih mau buat kartu anggota plus nanya-nanya. Tapi pas lihat nomor antrian, ya ampunnn... saya dapat nomor 249 sedangkan antrian saat itu masih di nomor 130an. Gatau tuh kenapa, antara pengunjung yang ramai saat weekend atau petugas nya sedikit dan lama kerjanya. Ya sudah kami tinggal deh dan muter-muter tempat ini dulu.

Rak buku 4 lantai

Weekend Tanpa Mall Series

Kota tempat saya tinggal saat ini penuh dengan shopping mall. Mungkin kelihatannya bagus karena menandakan perekonomian semakin maju, tapi mall-mall ini sudah menjamur terlalu banyak melebihi ruang umum lain yang tidak melibatkan komersial seperti taman dan perpustakaan. Orang-orang berkumpul di mall bersama teman-teman dan keluarga. Anak-anak sedari kecil sudah dibawa ke mall dan diperkenalkan dengan membelanjakan uang (consume) bukan dengan berkarya (produce). Mall memang cukup nyaman, sejuk dan ber-AC, tapi ada tempat kumpul lain bukan mall yang nyaman kok. Coba lihat negara Singapura yang sama persis cuaca panas nya dengan Jakarta, banyak shopping center tapi taman-taman nya juga seimbang jumlahnya dan nyaman untuk didatangi bukan cuma dilihat.

Sedang bermain di rumah teman Eyang di Cigombong

Saya dan keluarga agak jarang ke mall. Saya masih sering belanja sih (namanya juga emak-emak :p) tapi online, ga di depan anak saya. Trus kalau weekend ngapain dong? Ternyata banyak loh tempat-tempat keluarga non mall di Jakarta dan sekitarnya yang asik dan seru didatangi terutama buat anak-anak. Kebanyakan pengeluarannya jauh lebih murah daripada jalan-jalan di mall. Di blog ini saya akan sharing tempat-tempat non mall yang saya dan keluarga datangi saat weekend di seri Weekend Tanpa Mall (WTM). Semoga cukup bermanfaat buat keluarga lainnya.

Semua postingan di WTM series biss dilihat disini. Have a nice weekend!

25 September 2017

Rainbow Island

Who says Jakarta does not have decent beaches? It has, but it would take one boat away... to Pulau Seribu (thousands islands). After 4 years ago visited Harapan Island, this time I had a chance to visit another island in Pulau Seribu called Pelangi Island (pelangi means rainbow). Not like Harapan Island which is a populated island, Pelangi Island is a resort. Most islands that can be visited in Pulau Seribu are resort islands, except Harapan, Kelapa, Pari, Pramuka and Tidung Islands. I went to Pelangi Island with my office colleague, just a small group of 15 people.

We booked 2 days 1 night package with Raja-Wisata.com. They are very friendly, helpful and most important thing is very fast response. Our Whatsapp messages are always answered quickly. The price for Pelangi Island varies depends on the type of room we want to book. There are 4 types: Edelweiss, Bougenville, Jasmine dan Tulip. Edelweiss and Bougenville are bungalow like a cottage, each has their own building and separated from other bungalows. While Jasmine and Tulip are like usual hotel room, attached to each other. As you can see from the room map above, all rooms are located on the sea side, except Tulip type. We booked 7 Bougenville rooms: 2 persons per room except 3 ladies in one room.

Pelangi Island Room Map

26 August 2017

The Lost Wanderer Itinerary Series: Busan

Busan may not be as favorite as Seoul and Jeju, but it can be an alternative to explore as the largest port city in South Korea. Except than the beach and port, the city itself almost resembles Seoul (maybe in few years back :p). How lovely the life of Busan people, they are living in a big city with many good facilities, yet they can easily reach beautiful beaches within the city.

Another reason to travel to Busan especially for South East Asians, there is flight AirAsia from KL to Busan which usually cheaper than KL to Seoul, vice versa. Some travelers opt to travel to Busan first then take the local transportation to the other part of South Korea.

For you who wants to travel to Busan and needs some ideas where and how to go around or just wants to read my story (hehe :p), you can download and read my second itinerary series ebook for free in this link (please open it using browser, not Scribd mobile app, because it does not work in the mobile app, I don't know why). 


In this ebook, I share the story of my trip to Busan almost 6 years ago. Long time ago, but the information is still valid. It was a short trip though, only 2 days 1 night, not as long as my first ebook (Gyeongju), but hopefully it would be much useful. If you also read my Gyeongju ebook, you can see that the book format is the same. This is the format I will always use in what I called as The Lost Wanderer Itinerary Series (TLWIS).

Hope you enjoy reading it as much as I enjoy writing it, even though it took me more than a year to write haha. Off I go now to write the next one. Hmmm maybe after cuddling my daughter first... and finish that book on the shelf... and.... well, see ya! :)